Selasa, 31 Juli 2012

all about LERUT *GARUT*

TANAMAN GARUT (Maranta arundinacea L.)

A. BOTANI GARUT

a. Taksonomi Garut

Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Zingeberales
Famili : Marantaceae
Genus : Maranta
Spesies : Maranta arundinaceae L.

b. Morfologi Garut

Tinggi :1,0-1,5 m, deengan perakaran dangkal dan rizhoma menjurus ke arah dalam tanah.
Panjang rizhoma : 20-45 cm, Diameter : 2-5 cm

B. KULTIVAR GARUT
1) Creole
Rizhoma kurus panjang, menjalar luas dan menembus ke dalam tanah. Bila tumbuh pada daerah yang kurang subur, akan cenderung menjadi umbi yang kurus dan tidak berguna (keadaan akar cerutu atau cigar root). Setelah dipanen, daya tahan selama tujuh hari sebelum pengolahan.
2) Banana
Rizhoma lebih pendek dan gemuk, tumbuh dengan tandan terbuka pada permukaan tanah. Umbi dekat dengan permukaan tanah sehingga lebih mudah dipanen. Hasil panen lebih tinggi, kandungan serat lebih sedikit sehingga mudah diolah, dan potensi menjadi akar cerutu sangat kecil sekali. Patinya lebih mudah diekstrasi dan mempunyai viskositas maksimum yang lebih tinggi. Kelemahannya adalah daya tahan yang hanya 2 hari setelah panen.

C. KOMPOSISI KIMIA
Umbi garut secara garis besar merupakan sumber karbohidrat. Selain itu, juga mempunyai susunan kimia seperti dalam tabel di bawah ini :

Tabel 1. Komposisi Kimia Kultivar Creole dan Banana
Komposisi Kimia Creole (dalam %) Banana (dalam %)
Air 69,1 72,0
Abu 1,4 1,3
Lemak 0,1 0,1
Serat 1,3 0,6
Protein kasar 1,0 2,2
Pati 21,7 19,4

D. MENANAM GARUT
a. Tempat Hidup
Hidup di daerah tropis dengan iklim lembab tapi panas.
^ curah hujan : 150-200 cm/bulan. Walaupun demikian, hasil optimum terdapat pada daerah dengan musim hujan yang lebih panjang daripada musim kemarau.
^tanah : drainase baik, tingkat keasaman rendah, con : tanah lempung subur yang mengandung mineral vulkanik.
^ketinggian : tumbuh normal pada 900 m dpl, lebih baik dekat laut dengan ketingian 60-90 m dpl.



b. Pemilihan Bibit
Garut ditanam secara vegetatif, yaitu dengan ujung-ujung rizhoma atau tunas umbi (bits) yang panjangnya 4-7 cm dan mempunyai mata tunas 2-4 mata tunas. Bibit yang digunakan harus sehat, berkualitas dan tidak kurus (menderita akar cerutu).
Satu hektar lahan bisa ditanami garut secara monokultur sebanyak 3.000-3.500 bibit. Sementara itu, garut juga bisa tumbuh dari potongan umbi sehingga umbi yang tertinggal pada saat dipanen dapat dijadikan sebagai bibit.

c. Penanaman
• Pengolahan Tanah
Tanah dibuat bedebgan-bedengan dengan lebar 120 cm dengan panjang tergantung luas lahan. Tinggi bedengan sekitar 25-30 cm dan jarak antar bedengan 30-35 cm.
Pemberian pupuk kompos / pupuk kandang sangat penting guna menggemburkan tanah. Satu hektar lahan biasanya memerlukan 25-30 ton pupuk.
• Jarak Tanam dan Penanaman
Garut lebih baik ditanam pada awal musim hujan (bulan Oktober). Bibit garut ditanam pada kedalaman 8-15 cm. adapun jarak tanamnya adalah 37,5 x 75 cm.

d. Pemeliharaan
1) Penyiangan
Tanaman diusahakan bersih dari rerumputan, terutama selama 3-4 bulan pertama. Penyiangan dapat dilakukan sebulan sekali dan dihentikan setelah bunga mulai nampak.
2) Pembumbunan
Pembumbunan dapat dilakukan dengan cangkul, yaitu membenamkan rerumpitan atau gulma ke dalam tanah sehingga bisa berperan sebagai pupuk. Pembumbunan dilakukan untuk tetap menjaga kegemburan tanah.
3) Pemupukan
Pupuk yang dianjurkan adalah 350-650 kg urea, 300 kg TSP dan 300 kg KCl untuk tiap hektarnya. Pada tanah lempung berpasir, biasanya digunakan campuran pupuk NPK dengan perbandingan 8 : 5 : 14 sebanyak 900 kg/ha.
Pemupukan dapat dilakukan sekaligus pada saat tanaman berumur 3,5 bulan atau secara bertahap. Jika bertahap, pemupukan pertama dilakukan bersamaan dengan penanaman bibit. Pemupukan berikutnya menjelang tanaman berbunga atau berumur 3,5 bulan. Pada saat itu, tanaman mulai membentuk umbi hingga memelukan banyak zat makanan. Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara membuat alur di sepanjang barisan tanaman atau lubang-lubang dekat dengan pangkal tanam. Setelah diberi pupuk, lubang atau alur perlu ditutup dengan tanah agar terhindar dari penguapan.

E. HAMA DAN PENYAKIT
• Ulat penggulung daun (Calopodes ethilus, Cram)
Menyebabkan pertumbuhan umbi terhambat karena sejumlah daun akan digulung sehingga dapat menghambat proses asimilasi. Hama ini dapat diatasi dengan mudah menggunakan larutan yang mengandung arsenik.
• Penyebab penyakit akar (Rosselina bunodes)
Sering menyerang tanaman garut, terutama pada daerah lembab yang curah hujannya tinggi dan drainasenya jelek.

• Pellicularia filamentosa
Sering menginfeksi tanaman garut di India, tetapi umumnya dapat diatasi secara efektif dengan disemprot larutan bordeaux.

F. PEMANENAN
Umbi sudah cukup dewasa pada umur 10-12 bulan sesudah tanam. Kandungan pati maksimum pada saat tanaman berumur 12 bulan, tapi umbi telah banyak berserat sehingga sulit untuk diekstrak. Pemanenan umbi siap dilakukan setelah daun-daun mulai layu dan mati.
Pada saat pemanenan, rerumputan dan sampah-sampah tanaman dikubur di lahan agar berubah menjadi bahan organik yang sangat membantu dalam menyuburkan tanah. Bibit-bibit untuk penanaman beikutnya pun perlu disiapkan.

G. KEGUNAAN GARUT
1) Untuk Obat-obatan
Sejak zaman dahulu, tanaman garut yang sudah ditumbuk halus sering digunakan oleh orang Indian untuk tapal luka, terutama dari serangan anak panah yang beracun. Sedang di Dominica digunakan untuk penyembuh borok. Selain itu, garut juga dapat digunakan sebagai :
• Pendingin perut dan untuk Disentri; umbi garut diparut setelah dibersihkan. Parutan garut kemudian dicampur dengan air matang, lalu disaring. Nah, air hasil penyaringan inilah yang dipergunakan sebagai obat. Selain itu, penderita juga dapat mengkonsumsi tepung garut.
• Obat Eksim; pertama-tama, luka eksim dicuci dengan daun legundi (Vitex trifolia Linn). Setelah itu, tepung garut dibedakkan pada luka.
• Katalis untuk Memperbanyak ASI; jenang atau bubur garut merupakan resep nenek moyang untuk memperbanyak ASI bagi ibu menyusui.



2) Tepung Garut
Tepung garut merupakan salah satu tepung termahal di pasaran dunia. Selain karena produksinya tidak sesuai permintaaan, tepung ini juga memiliki kegunanaan yang cukup luas. Sebagai contoh, tepung garut digunakan sebagai bahan baku untuk bubur, puding, biskuit, kue basah atau kering, campuran bolu dan lain sebagainya. Selain itu, tenyata tepung garut juga dapat digunakan untuk bedak, dekstrin, dan lem. Sedang di pabrik-pabrik tablet, tepung garut biasanya digunakan untuk mempersiapkan tablet yang mengandung barium supaya cepat hancur. Tepung ini juga dapat digunakan untuk pengisi (filler) tekstil dan kertas.
Cara pembuatan tepung garut pada dasarnya adalah menggunakan patinya. Kandungan pati umbi garut sendiri berkisar antara 8-16 % tergantung dari umur dan kesuburan tanaman. Pati didapat dari hasil endapan filtrasi campuran antara parutan garut dengan air. Setelah itu, pati dikeringkan dan dihaluskan kembali.

3) Masakan Garut
Garut dapat dijadikan sebagai bahan baku beraneka makanan seperti jenang, kue dadar, keripik, jentik manis, atau yang lainnya. Di bawah ini, akan diuraikan beberapa resep olahan dari garut.



a) Jenang Garut
- 1 kg tepung garut dicampur dengan air bersih, lalu dipanaskan, kemudian ditambahkan air santan 4 gelas, 1 sendok teh garam, 4 lembar daun pandan, dan ½ kg gula merah yang telah diiris halus.
- Semua campuran diaduk rata, lalu diangkat setelah kurang lebih 30 menit.
- Adonan dituangkan dalam loyang dan dibiarkan dingin.
- Adonan diiris-iris persegi panjang lalu digulingkan dalam parutan kelapa sebelum disajikan.
b) Kue Dadar
- Untuk kulitnya : 3 macam tepung (2 cangkir tepung beras dalm keadaan munjung, ¾ cangkir tepung garut, dan ¾ cangkir tepung ketan) dicampur menjadi satu, diadoni dengan santan cair yang hangat-hangat kuku lalu diuleni. Telur dikocok dan dicampurkan ke dalam adonan lalu dicairkan dengan santan hingga seperti adonan resolles. Jangan lupa masukkan garam, dan bila menginginkan variasi bisa ditambahkan pewarna makanan. Adonan tersebut kemudian didadar di atas wajan panekoek yang telah dipoles minyak. Jika pinggir-pinggirnya sudah kering, diangkat, lalu diberi isi, kemudian dilipat lagi seperti melipat resolles. Dimakan dengan santan kental yang sudah direbus dengan garam dan daun pandan.
- Untuk isi atau untinya : kelapa diparut, taruh di wajan, diberi gula hingga manis plus air secukupnya, diaduk-aduk hingga kental, kemudian dibubuhi tepung kentqn kurang lebih 1 sendok makan dan diaduk lagi hingga tepungnya matang, lalu diangkat. Jika sudah dingin, dipulung sepanjang jari, lalu diisikan ke dalam kulit dadar.
c) Jentik Manis
- 1 cankir tepung garut, 5 cangkir santan, garam secukupnya, dan 225 gr gula dicampu menjadi satu sambil dimasak dan diaduk-aduk hingga menjadi bubur.
- Sekoteng yang sudah direbus dimasukkan, diaduk-aduk sebentar, lalu diangkat.
- Ambil sepotong daun pisang, taruh kira-kira sesendok dari bubur tersebut, lalu digulung sambil kiri kanannya ditekuk.
d) Keripik Garut
- 1 kg umbi garut dicuci bersih, lalu diiris-iris setebal 0,5 cm.
- Irisan tersebut ditaburi garam, lalu diaduk hingga rata dan didiamkan sekitar setengah jam agar lunak dan hilang getahya.
- Setelah itu, irisan umbi dicuci dan ditiriskan, lalu dikukus hingga masak.
- Setelah masak, irisan dijemur atau dikeringkan, kemudian digoreng dalam minyak panas.
- Didihkan ¼ lt air dan ¼ kg gula merah sampai kental, lalu masukkan 1 sendok teh essense dan aduk hinnga rata. Kecilkan api, lalu keripik yang sudah digoreng dimasukkan ke dalam adonan gula. Aduk hingga rata.
- Setelah rata, keripik diangkat dan didinginkan, lalu siap disajikan atau dipack.

4) Makanan Ternak
Selain untuk pangan manusia, ternyata garut juga dapat digunakan sebagai pakan ternak, yaitu ampasnya dari sisa hasil pemrosesan. Hal ini dikarenakan pada ampas umbi garut masih terdapat zat-zat makanan yang baik untuk ternak seperti lemak, protein, abu, dan pati sebagai karbohidrat.
(disadur dari buku “bertanam ubi-ubian karya pinus lingga dkk)

Selasa, 17 Juli 2012

TENTANG KEHALALAN HEWAN LAUT

Perbedaan pendapat 4 Mazdhab tentang kehalalan hewan laut (berdasarkan Hadits Rasul yang tertulis dalam kitab :Bulughul Marom:)

1. Imam Hanafi :"Semua binatang laut halal kecuali ular (laut), anjing (laut), dan babi (laut).


2. Imam Ahmad :"Semuanya halal kecuali katak, ular dan buaya."


3. Imam Syafi'i & Imam Malik :"Semua jenis hewan laut HALAL"

Selasa, 19 Juni 2012

TEKNIK MENJAGA KUALITAS TAPE SINGKONG

1. PENDAHULUAN
Tape merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia. Tape dapat dibuat dari bahan pangan berkabohidrat seperti singkong dan ketan yang difermentasi menggunakan ragi. Bakteri Bacillus subtilis, Klebsiella sp., Candida tropicalis, C. Krusei, Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oryzae, Endomycopsis burtonii, Mucor sp., Candida utilis, Saccharomycopsis fibuligera, Pediococcus sp., dan lain-lain pada ragi akan menguraikan enzim yang ada pada singkong sehingga proses fermentasi terjadi.

2. KANDUNGAN dan KELEBIHAN TAPE SINGKONG
Tape hasil fermentasi mengandung Vitamin B1 (tiamina) hingga tiga kali lipat. Vitamin ini diperlukan oleh sistem saraf, sel otot, dan sistem pencernaan agar dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, karena hasil fermentasi, tape singkong juga mengandung berbagai macam bakteri “baik” yang aman dikonsumsi, sehingga tape singkong dapat digolongkan sebagai sumber probiotik bagi tubuh. Produk fermentasi ini juga diyakini dapat memberikan efek menyehatkan tubuh, terutama sistem pencernaan, karena meningkatkan jumlah bakteri dalam tubuh dan mengurangi jumlah bakteri jahat.
Sementara itu, tape singkong juga mampu mengikat dan mengeluarkan aflatoksin dari tubuh. Aflaktosin merupakan zat toksik atau racun yang dihasilkan oleh kapang, terutama Aspergillus flavus. Toksik ini banyak kita jumpai dalam kebutuhan pangan sehari-hari, seperti kecap. Konsumsi tape singkong dalam batas normal diharapkan dapat mereduksi aflatoksin tersebut.
Ada fakta menarik bahwa di beberapa negara tropis yang mengonsumsi singkong sebagai karbohidrat utama, penduduknya rentan menderita anemia. Hal ini dikarenakan singkong mengandung sianida yang bersifat toksik dalam tubuh manusia. Konsumsi tape singkong dapat mencegah terjadinya anemia karena mikroorganisme yang berperan dalam fermentasinya mampu menghasilkan vitamin B12.

3. TEKNIK MENJAGA KUALITAS TAPE SINGKONG
Melihat berbagai macam kandungan tape yang begitu banyak, maka diperlukan suatu teknik agar kualitas dari tape tetap terjaga sehingga kandungan dalamnya pun tidak hilang. Adapun beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga atau bahkan meningkatkan kondisi tape dalam kualitas yang baik adalah sebagi berikut :
a) Untuk tape singkong, maka sebaiknya menggunakan bahan baku singkong mentega kuning super dengan umur panen 9 bulan dan memiliki panjang 25-30 cm.
b) Gunakan ragi dengan mutu baik agar tape yang dihasilkan rasanya manis.
c) Pada proses pembuatan tape, maka suhu tape benar-benar terjaga, yaitu dalam interval 30°C-35°C sehingga proses fermentasi optimal.
d) Dalam perebusan, singkong harus sudah benar-benar matang, namun tidak terlalu lembek.
e) Dalam penyimpanan, usahakan tape tidak terkena udara langsung, apalagi terkena sinar matahari sehingga membuat tape cepat lembek dan berair.
f) Biasanya, umur simpan tape dapat mencapai waktu seminggu. Namun, bisa ditambahkan bawang putih sedikit dalam proses peragian untuk memperpanjang sedikit masa simpan dan menghilangkan aroma asam dalam tape.

untuk Malam yang Indah

tampaknya malam tak punya mentari,, tapi jangan salah, cobalah tengok dunia yang lain,,, Sang Surya tetap tegak menyala memberikan sinarnya..

tampaknya malam memang gelap,, tapi tak ingatkah kita bahwa dengan malamlah lampu-lampu berpijar, bintang-bintang gemerlapan, dan rembulan berpendar,,??


tampaknya malam terlalu menakutkan,, tapi dengannyalah kesan indah sering diciptakan,,,,,,,,,,,

Rabu, 16 Mei 2012

jalanan purwokerto

Terik. Panas menyengat. Mentari murka. Peluh bercucuran menemaniku tuk menapaki panasnya jalanan. Di sini, ku hanya bisa memandang laluan pemilik deru knalpot yang tak berperasaan.

Hmm,, beginikah jalanan, yang dengan angkuhnya mengalirkan ion-ion tubuh para insani ??

Kamis, 03 Mei 2012

KURSI GOYANG


Berjuta-juta bintang berkerlap-kerlip di rimbunan dedaunan malam. Bersamanya, sebuah senyum menyabit yang berpendam terang di tengah kegelapan. Simfoni-simfoni kehidupan telah sepi walau terkadang masih terdengar sayup-sayup celotehan makhluk Sang Kuasa. Selain itu, berbagai parade musik malam turut serta menyemarakkan indahnya si anti-siang.
‘Slurrrp....’, kusruput kopi yang sudah agak dingin, yang senantiasa menemaniku bernostalgia di sini. Di atas sebuah kursi goyang coklat tua yang tak pernah mengeluh walau kududuki setiap malam.
Di sini, di serambi depan rumah, aku selalu berpikir dan merenung.Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, aku akan duduk bersama ‘Si Tua’, begitulah aku memanggil kursi goyang coklatku, setiap malam sembari menikmati pahitnya kopi. Memandangi hamparan langit yang gelap dan permadani laut yang hitam kelam juga turut serta dalam daftar aktivitasku di sini.
“Huuhh...”, aku mendengus, tepat setelah kuperoleh dua jarum di arlojiku bertumpukkan menunjuk angka terbesar.
Pikiranku menerawang jauh ke belakang. Mengobrak-abrik berbagai pondasi waktu yang selama ini ku tempuh. Terus ke belakang menuju di saat aku masih terjerembab di lubang kesesatan.
“Aah ... A...ku muauu kawin, biyuung.” Aku ngomong sendiri di tengah perjalanan ke rumah sambil berusaha menahan diriku yang sempoyongan.
Jalanku sudah tidak lurus, tapi zig-zag. Tangan kiriku masih mengenggam sebutir botol yang masih berisi setengah. Bicaraku ngelantur, tapi aku masih ingat betul apa yang aku lakukan malam itu. Seakan semuanya terekam dalam sanubariku. Aku tidak tahu kenapa. Tapi beginilah aku. Walaupun aku mabuk berat, tidak ada yang terlupa olehku. Semua kelakuanku yang tanpa kendali terekam baik dalam otakku.
Sementara itu, aku juga dikenal Si Jago Minum. Hari itu saja aku sudah menghabiskan hampir 2 lusin botol dari berbagai merk. Semua ku-dapatkan gratis karena aku selalu menang dalam lomba adu minum.
“Bah, abah !!” sebuah tangan lembut menyentuh pundakku. Aku pun membuka mata.
“Kalau Abah sudah ngantuk, tidur di dalam saja. Di sini banyak nyamuk. Anginnya juga tidak baik buat abah,” ucapnya kemudian dengan nada yang sangat lembut.
“Abah belum ngantuk,ummi...,” jawabku sambil mengelus tangannya yang lembut. “Lha, apa dari tadi ummi belum tidur?” tanyaku kemudian.
“ Oh... tidak, Bah. Ummi tadi terbangun dan melihat pintu depan masih terbuka.Ummi takut abah ketiduran di luar. Abah sendiri sebaiknya tidur.Tidak baik begadang, bah.”
Aku menurut. Aku pun bangkit dari kursi goyangku dan masuk ke rumah sambil bergandengan tangan. Persis seperti orang pacaran. Memang, jiwaku masih jiwa muda. Umurku baru 23 tahun dan ia –si penyejuk kalbu- lebih muda dua tahu dariku.
“Bah, ummi mau sholat tahajud dulu,” katanya, “Silahkan abah tidur duluan saja”.
Aku hanya mengangguk. Ku tatap wajah anggun yang terbungkus jilbab itu sebelum berbalik dan mengikuti empunya pergi mengambil air wudlu. Aku tidak pernah mengira akan berpasangan dengan perempuan yang sholihah. Apa mungkin ini keseimbangan? Berandalan dengan ahli ibadah? Atau juga ini hanya perbaikan keturunan?
“Aah..”, aku mendesah pelan. Kupejamkan kedua mataku sesaat setelah menerawang langit-langit kamarku. Aku hanya menganggap semua ini adalah karunia Allah SWT yang diberikan kepadaku. Aku tersenyum sembari menelurkan butir air mata. Bila kumengingat masaku dulu, sepertinya tidak pantas aku menerima semua ini. Namun, aku yakin Allah adalah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau berubah.
Semburat awan hitam yang melayang-layang mengiringi nihilnya kesadaranku. Bulan dan bintang-bintang yang tadi bersinar, kini harus sendiri tanpa seorang pun yang menikmatinya. Aku yakin, hampir semua manusia di dunia ini tidak pernah melewatkan malam dengan menikmatinya di atas sebuah kursi goyang tua coklat sambil menyruput kopi.
Siklus perputaran bumi terus berlanjut, begitupula jarum penunjuk waktu. Fajar kidzib telah datang, lalu berturut-turut dengan menggantikan sebelumnya; fajar shodiq, bedug subuh, waktu dhuha dan empat sholat lainnya hingga waktu favoritku tiba.
“Aku sudah menunggumu,malam!” pekikku pelan di atas kursi goyang kesayanganku.
“Bah, ini kopinya,” senyum ummi sambil meletakkan kopi di meja.
“Terima kasih,ummi,” aku pun tersenyum membalas.
“Jangan terlalu malam tidurnya, ya, bah,” ucapnya kemudian, lalu masuk ke dalam.
“He’em...,” jawabku singkat.
‘Sluuurrp....’ Hangat dan mantap. Cocok untuk kegelapan malam. Aku pun mempersiapkan diri untuk bernostalgia lagi dengan memoriku setelah sruputan yang kedua kali.
Ingatanku meloncat. Tepat di era aku mulai meretas tuntas tingkah laku dan memulai hidup baru. Zaman di mana aku luluh dan takluk di hadapan seorang gadis yang lugu dan –menurut Maman, teman berandalku- lucu karena tidak punya nafsu untuk berbuat ini itu.
“Eh, Man. Gadis itu cantik juga,ya,” ucapku suatu hari ketika melihat seorang gadis berjilbab lewat di depan base campku.
Maman yang mendengarku tertawa, “Cantik sih cantik, tapi ya itu. Nggak punya nafsu”.
“Gak punya nafsu gimana maksud kamu, Man?” aku sedikit tersentak ketika mendengarnya. Maman tertawa lagi, tapi agak pelan. “Kamu tunggu saja nanti kalau dia lewat lagi,” ujarnya kemudian.
Aku semakin bingung. Pikiranku melayang-layang, mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan Maman tunjukkan. Maman hanya tersenyum geli melihatku. Dia membiarkanku berada di alam penasaran.
“Eh, Man. Tuh orangnya dah kembali,” ucapku kepada Maman ketika kulihat gadis tadi kembali sambil menenteng plastik.
“Hehh !!”, Maman menggertak jengkel karena tepukan tanganku ke pundaknya tadi mengganggu konsentrasinya untuk membuat ‘love’ dari asap rokok.
Aku hanya tersenyum geli. “Katanya mau nunjukin kalau kalau dia gak punya nafsu. Gih cepetan!” pintaku kemudian, menagih janjinya.
Dia pun turun dari angkruk, base campku bersama teman-teman, lalu menuju jalanan dan berdiri persis seperti akan mencegat angkot.
“Hai, Ning!” sapanya sambil melambaikan tangan. “Sini mampir ke base camp abang!” ucapnya kemudian.
Tak ada jawaban. Hanya sedikit tolehan yang diterima Maman. Itupun hanya setengah wajah yang menyiratkan rasa kaget dan sedikit rasa takut bercampur jijik. Setelah itu, dia pun kembali fokus ke depan dengan mempercepat langkahnya.
“Lihat gak kamu. Masa’ abang ganteng gini dicuekin,” teriak Maman sambil menyibakkan rambut punknya. “Emang gak punya nafsu tuh bocah,” gumannya sambil menggelengkan kepala.
Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya.“Itu sich bukannya gak nafsu. Tapi kamunya aja yang kepede-an,” jelasku sambil berusaha memarkirkan rasa ingin tertawaku.
“Man..., kalau aku yang jadi gadis itu, aku pun gak mau disapa sama orang serem gini,” ucapku kemudian sambil menunjuk wajah Maman.
“Masa’ wajahku serem, sih,” gumannya kemudian.
‘Sluurrp....,’aku menyruput kopi untuk yang ketiga kalinya.
“Wahai malam, sampaikanlah salamku kepada Maman!” ucapku pelan.
Kusruput kopi buatan ummi sekali lagi. Sekarang dia hanya tinggal separo, yang separo lagi hanya berisi udara kosong. Kupandang ia lekat, seperti dua sisi yang saling melengkapi siang dan malam. Aku tersenyum, lalu mengalihkan perhatianku terhadap kegelapan malam di depanku. Terdengar debur ombak yang meliuk-liuk menyejukkan suasana. Namun sayang, teman-temanku kemarin tidak hadir karena terhalang oleh awan mendung. Tapi tidak apalah,ada hal yang tidak kalah menarik bersedia menggantikanya. Terpampang besar di sana, selaksa layar bioskop yang sedang menayangkan jawara box office pekan ini.
Aku menyaksikan diriku sedang bergerilya membuntuti seorang gadis berjilbab. Gadis yang kemarin membuat Maman bertingkah konyol dan membuatku merasa berbeda. Dari informasi yang kudownload dari si Punker Boy, begitulah Maman menjuluki dirinya, gadis itu bernama Ningrum. Anak kampung sebelah dan memiliki paklik di kampungku. Dia juga merupakan teman sekelas Maman di SD, tapi sekarang sedang nyantri di sebuah pesantren terkenal. Sedangkan Maman, dia memilih menjadi korban D.O. SMPnya. Mungkin dia sekarang sedang menikmati liburan pasca ujian kalau melanjutkan sekolahnya. Sedangkan aku -lima tahun yang lalu, setelah lulus SD- aku memilih menjadi berandalan daripada sekolah, aku pun menjadi anti dengan hal yang berbau sekolah.
“Aaaauuuw!” aku menjerit keras sambil memegangi kepalaku. Ada yang menyengatku.
“Keparat!!” umpatku kemudian setelah melihat seekor lebah yang tersenyum mengejekku. “Awas, kamu!!”
Kepalaku berdenyut. Membengkak. Aku merasakan sakit yang datang silih berganti. Tapi, aku tidak mau misiku gagal. Aku pun melanjutkan gerilyaku. Kulihat gadis itu mempercepat langkahnya. ‘Apa mungkin dia tahu aku mengikutinya, ya?’ tanyaku dalam hati.
“Lebah sialan!” umpatku lagi.
Tak mau ketinggalan labih jauh, aku segera membuntutinya. Kali ini aku lebih berhati-hati. Aku melihatnya sedikit merasa cemas dan waspada, terlihat jelas dari cara berjalannya. Beberapa saat kemudian, dia memasuki rumah bercat hijau yang terletak di sebelah utara masjid.
“Assalamu’alaikum!” uuh, suaranya lembut menggetarkan kalbuku.
“Wa’alaikumsalam!” jawab seorang ibu paruh baya yang sedang menjemur pakaian di depan rumah, “Tumben sudah pulang nak?”
“Tadi ustadznya ada udzur. Jadi, ngajinya diliburkan,” jawabnya lembut.
“Oh, jadi ini rumahnya,” gumamku pelan.
Hatiku ceria, gembira tiada tara. Perasaan berbeda yang dari kemarin menyelimutiku, kini bertambah dominan. Aku sadar diriku telah terpikat dengannya.
“Kapan kamu balik pondok, nak?” tanya ibunya.
“Insya Allah lusa,bu. Sekalian nanti sowan sama yai untuk boyong,” jawabnya, lalu masuk ke dalam.
Seaat kemudian, dia keluar sambil menenteng sapu.
“Kamu jadi ingin pindah ke Kudus?” tanya ibunya lagi saat ia mulai menyapu.
“Ya, Bu, Ningrum ingin sekali menjadi hafidloh. Kan jarang sekali remaja sekarang yang menekuninya. Langka. Ningrum ingin sekali menjadi barang langka,” jawabnya. Sesaat ia menghentikan pekerjaannya. “Kata pak yai, ‘Fathubalil Ghuraba’. Sungguh beruntung orang-orang yang asing atau langka,” lanjutnya sambil tersenyum.
“Manis sekali,”aku berguman. Dadaku bergemuruh.
“Ya,sudah. Ibu hanya bisa berdo’a agar Allah mengabulkan cita-cita dan harapanmu.”
“Amiieeen...!” tanpa sadar aku mengucapkannya, berbarengan dengan Ningrum.
Sejam telah berlalu, tapi aku masih belum beranjak dari mengamati rumah Ningrum. Aku bersyukur kedua pohon mangga ini bisa menjadi tempat pengintaianku, tanpa ada yang mengganggu. Padahal, matahari sudah semakin ke barat. Selain itu
‘Allahu Akbar - Allahu Akbar’
‘Allahu Akbar -Allahu Akbar’
Kulihat Ningrum segera menghentikan aktifitasnya membaca buku. Dia pun masuk ke dalam meninggalkan kursi goyangnya yang masih berjungkat-jungkit ke belakang. Sesaat kemudian, ia keluar sambil mendekap sajadah dan mukena. Dia menuju masjid, begitupula ibunya yang berjalan di depan.
“Lagi ngapain, Bos?” aku kaget. Seseorang menepuk punggungku. Aku pun menoleh.
“Ealaaah...,kamu Pin?” ternyata Ipin, salah satu anggota genk berandalku.
“Lagi ngapain di sini?” ulangnya lagi.
“Ee... ti-tidak apa-apa.”jawabku gugup. Ipin hanya tersenyum.
“Eh, jangan lupa nanti malam ada rapat,”ucapku sambil melenggang pergi. ”Dan jangan lupa bawa duit duapuluh ribu ya”
“Nggak sholat dulu, bos?” teriaknya karena aku sudah sedikit jauh.
“Besok sajalah,”teriakku lebih keras.
‘Sluurrrp....,’ kopi yang kusruput sudah terasa dingin. Aku belum ingin menghabiskannya. Kusisakan untuk yang terakhir kali. Kemudian aku pun menikmati iklan gelegar halilintar. Aku heran, kenapa bioskop memiliki iklan. Apa karena bioskop malam? Aku tidak tahu, lebih baik aku melanjutkan menonton bioskop terbesar di dunia.
Malam sudah mulai merajut tubuhnya. Sudah hampir sampai kepala. Tidak ada kepekatan seperti sekarang ini di sana. Bulan berpendar dengan wajah sempurna, ditemani bintang-bintang yang tidak mau berkedip walau seperseribu detik lamanya. Suara tawa di base campku menemuhi malam itu. Berbagai botol dari campuran alkohol plus-plus tergelak berantakan. Sebagian yang masih berisi sedang bergoyang ria sambil kencing di depan mulut-mulut pemegangnya. Namun, belum ada yang teler mutlak di sana.
“Nggak minum Bos?” tanya Sotoy kepadaku.
“Iya Bos. Tumben nggak minum?” imbuh Qbenx.
Aku hanya terdiam cemas, menunggu kahadiran Ipin. Arlojiku sudah menunjukkan pukul delapan.
“Wah, jangan-jangan Bos Cekol udah tobat nich,” celoteh Maq. “Gara-gara kesambet cewek kalee,” imbuh Maman.
“Ha-ha-ha,” gelak tawa mereka membahana, meramaikan malam yang indah itu. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Udah.. jangan ribut. Aku ada urusan sama si Ipin“, akhirnya aku bersuara ketika melihat Ipin menggenjot sepedanya mendekat.
“ Emangnya, mau ke mana kau?” tanya Maman begitu melihatku menghampiri Ipin.
“Udah,kamu di sini saja. Jaga anak-anak, jangan sampai ada yang pergi sebelum kita balik,” jawabku sambil membonceng sepeda Ipin. Ipin hanya melongo.
“Ok,”jawab Maman dan kembali berminum ria.
“Pin, kita ke rumahmu!” Ipin hanya diam tanpa bertanya. Dia segera memutar balik sepedanya dan menggenjotnya dengan kecepatan penuh.
“Stop dulu, Pin!” aku menepuk pundaknya tepat di depan tukang bakso. “Beli bakso dulu, udah bawa duit, kan?” pintaku kemudian.
Dia menurut, lalu menyandarkan sepedanya di pohon palem. ”Ya, bawa,” jawabnya kemudian.
“Bang, bakso dan es dua,” pesanku lalu duduk. Ipin hanya menurut.
“Sorry, Pin!” gumanku pelan.
“Kenapa?” tanya Ipin heran.
“Soal uangnya,” jawabku, ”kan kamu gak makan uang curian ayam. Jadi, makai uangmu dijamin halal,” jelasku sambil meringis.
“Halah...halah, ternyata,” Ipin menonjokku pelan. ”Eh, tadi sore ngapain di bawah pohon mangga gitu?”
“Justru itu, aku ingin merapatkannya dengan kamu,” jawabku membuat Ipin heran. ”Setelah itu kita ke rumahmu.”
Bakso dan es teh sudah datang. Ipin menerimanya dan memberikan sepasang untukku. “Rapat apa?” tanyanya kemudian.
Aku menarik napas pelan. “Begini, Pin...,” aku mulai bercerita tentang apa yang kulalui kemarin dan tadi sore.
“Ooo...,” ucap Ipin setelah mendengarku. Lalu dia tertawa hingga tersedak.
“Tapi berat, bos. Orang sekaliber Ningrum, sulit ditaklukkan. Pandangan mata sama laki-laki saja tak pernah. Aku yakin, dia bakalan ogah diajak pacaran,” Ipin langsung nyerocos begitu sedaknya hilang.
“Siapa yang mau pacaran. Besok malam temani aku melamarnya.”Ipin kaget hingga tersedak lagi begitu mendengar ucapan tadi. Dia pun meneguk es tehnya habis.
“Beneran Bos?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk.
“Tapi, Ningrum itu anak sholihah. Ibadahnya rajin, jamaahnya gak pernah telat. Ngajinya tekun, puasanya gak pernah bolong. Jadi ustadzah di masjid. Calon Hafidloh pula,” Ipin nyerocos lagi. “Pokoknya nggak ada dech gadis di kecamatan ini yang seperti dia. Perlu usaha yang berat,” tambahnya lagi.
“Makanya aku butuh kamu, Pin. Kamu kan anaknya pak Ustadz, alim pula,” aku memandang Ipin lekat,”Tolong malam ini beri aku les privat tentang agama. Cuma kamu yang pinter ngaji di genk kita. Cuma kamu yang gak mau curi ayam dan minum.”
Ipin mengangguk. Setelah itu, dia segera totalan dengan tukang bakso lalu menghampiriku untuk segera cabut ke rumahnya. Aku senang melihat gairah Ipin yang begitu bersemangat mengayuh sepedanya.Sesampai di rumahnya, Ipin segera membawaku ke kamarnya dan memulai lesku.
“Pin, makuaaasih banyak, yaa...,” aku menguap,lalu tertidur.
‘Gluduk-gluduk’,selain halilintar, ada iklan lain yang menyelingi bioskop malam ini. Suara hempasan ombak pun tidak mau ketinggalan. Aku hanya menikmatinya sambil menghayati goyangan Si Tua. Begitu bioskop dimulai lagi, persyaratan Ningrum sedang diajukan.
“Ningrum menerima pinangan akhi bila akhi bisa memenuhi syarat yang Ningrum ajukan. Selain ingin menjdai hafidhoh, Ningrum juga ingin berkhidmah kepada suami yang hafidh pula,” jawabnya lembut dan tetap menundukan kepala. “Datanglah kemari 5 tahun lagi, tepat setelah umur Ningrum 20 tahun”.
Langit menjadi gelap lagi. Bioskop telah selesai. Kusruput kopiku untuk yang terkhir kalinya. Aku tidak pernah mangira akan memiliki takdir hidup sebagai pasangan hafidh-hafidhoh dengan Ningrum. Aku berharap pula anak yang kini sedang tidur di rahim Ningrum dapat melengkapi hawa Al-Qur’an di rumah ini.
‘Tes, tes, tes’, kondensasi awan rupanya telah berubah menjadi butiran pemisah antara aku dan malam. Aku pun bangkit dan menenteng kursi goyangku ke dalam. Tak rela aku membiarkannya kedinginan bersaman gelapnya alam. Ialah satu-satunya warisan mendiang ibu mertuaku yang senantiasa menemaniku mengingat masa kelam.


Jumat, 20 April 2012

PERAN ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM


Kilas balik beberapa abad silam, dimana ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali didatangi oleh Jibril. Di sana, Allah SWT menurunkan ayat yang pertama kali, yaitu tentang pengenalan terhadap Tuhan dan ilmu. Kala itu, Jibril berkata : “Iqro’ ( bacalah )!” Nabi Muhammad menjawab : “Maa ana biqori’ (saya tidak dapat membaca)”. Kemudian Jibril mengulang perintahnya kembali dan Muhammad pun selalu memberi jawaban yang sama. Hal ini berulang sampai 3 kali hinggga akhirnya Jibril berkata :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq : 1-5)
Dalam wahyu pertama tersebut, terdapat kata iqro’ (bacalah) dan bil qolam (dengan perantara kalam/pena). Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sarana mencari ilmu adalah dengan membaca dan menulis. Dengan membaca, kita bisa mendapatkan banyak wawasan, referensi, informasi, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Sedang dengan menulis, kita bisa merekam apa yang telah kita dapatkan. Selain itu, dijelaskan pula bahwasanya sumber segala ilmu adalah Allah SWT. Hal ini tersirat pada ayat pertama, dimana Allah menyuruh hamba-hambaNya agar mengawali sebuah bacaan dengan menyebut nama-Nya. Dan pada ayat-ayat selanjutnya diterangkan bahwa Dialah Dzat yang pertama kali mengajarkan ilmu kepada para manusia.
Dalam agama Islam sendiri, menuntut ilmu hukumnya adalah wajib ‘ain, artinya bagi setiap umat muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu. “Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kullimuslimin wa muslimatin, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim laki-laki dan perempuan”, begitu sabda Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dalam hadits beliau yang lain, disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan kepada umatnya agar menuntut ilmu mulai ketika masih di ayunan hingga liang lahat (minal mahdi ilal lahdi). Hal ini dikarenakan ketika manusia dilahirkan, mereka tidaklah mengetahui apa-apa (bodoh), sehingga perlu suatu proses pembelajaran dalam menempuh kehidupan.
Ilmu merupakan hal yang sangat vital perannya dalam kehidupan. Tanpa ilmu, orang-orang akan seperti kehilangan pedoman dan pekerjaan pun tampak terlihat sia-sia belaka serta kurang bermanfaat, bahkan merugikan. Sebagai contoh, seorang petani. Apabila dia tidak mengetahui seluk beluk tentang pertanian, tentulah dia akan asal-asalan dalam bertani sehingga tidak mendapatkan hasil maksimal, bahkan mungkin rugi. Begitupula seorang nelayan, jika dia tidak mengetahui tentang kondisi laut, angin, tempat-tempat berkumpulnya ikan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan profesinya; tentu dia akan kebingungan akan melaut kapan dan dimana. Hal ini tentu berlaku pula bagi setiap profesi dan bidang apa pun.
Peran dan keutamaan ilmu dalam kacamata Islam sangatlah penting sehingga banyak sekali keuntungan-keuntungan bagi orang yang berhubungan dengan ilmu, baik yang mencari maupun yang mengajarkan. Di antara keuntungan mencari dan mengajarkan ilmu adalah :
1. Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang tidak akan terputus pahalanya walaupun pelakunya sudah meninggal. Sabda Nabi : “Manakala anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal ibadahnya kecuali 3 perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)
Ilmu yang bermanfaat merupakan ilmu yang diridhoi oleh Allah, baik ilmu yang membahas tentang ayat-ayat qouliyah ataupun tentang ayat-ayat kauniyah. Ilmu akan jadi bermanfaat bila pemilik ilmu tidak hanya menikmatinya sendiri, tetapi orang lain juga ikut mengecap manfaatnya. Jadi, wajarlah jika pahala ilmu tersebut akan tetap mengalir walaupun empunya sudah meninggal karena tetap ada orang yang mengamalkannya.
2. Menuntut ilmu memudahkan jalan menuju surga. Rasulullah bersabda : “Tidaklah seseorang keluar rumah untuk menuntut ilmu kecuali Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Tabrani)
Dengan menuntut ilmu, seseorang akan mengetahui jalan mana yang dirihoi oleh Allah. Untuk memperolehnya, tentu butuh perjuangan lahir dan batin karena banyak godaan dan rintangan baik dari dalam diri maupun dari luar. Jikalau perjuangan itu telah berhasil, niscaya Allah telah meridhoi dan jalan menuju surga tentulah telah terbuka.
3. Mengajarkan sebuah ilmu merupakan sebaik-baik shodaqoh. Dalam hadits, Nabi menjelaskan : “Sebaik-baik shodaqoh adalah ketika seorang muslim mempelajari sebuah ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya (muslim lainnya).” (HR. Ibnu Majah)
Ilmu yang dimaksud di sini tidaklah terbatas pada ilmu yang membahas masalah keagamaan saja, tetapi juga ilmu pengetahuan seperti keterampilan, kewiraswastaaan, ilmu alam, dan ilmu sosial.
4. Para penuntut ilmu akan diangkat derajatnya di sisi Allah. Telah dijelaskan hal tersebut oleh Allah sendiri dalam firman-Nya : “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi/menuntut ilmu beberapa derajat.”(Al-mujaadalah : 11)
Orang yang berilmu tentu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang memiliki pengetahuan tentu akan lebih mudah dalam menjalankan kehidupannya dan terkadang posisi sosialnya pun lebih tinggi daripada orang yang tidak berpengetahuan. Oleh karenanya, tidaklah heran bila Allah juga menempatkan orang yang berilmu lebih tinggi kedudukannya di sisi-Nya. Dengan catatan, ilmu tersebut dibarengi dengan iman dan taqwa kepada Allah.
Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya ilmu merupakan hal pokok dalam hidup. Dengannya, hidup akan terasa lebih mudah dan damai. Di samping itu, menuntut ilmu juga mempunyai keutamaan-keutamaan yang sangat banyak, diantaranya : derajat para penuntut ilmu diangkat beberapa derajat oleh Allah di sisi-Nya, dimudahkan jalan menuju surga, dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menuntut ilmu hingga tubuh menyentuh liang lahat.
Namun, hal yang perlu diperhatikan bagi penuntut ilmu adalah jangan sampai ilmu yang ia miliki hanya menjadi hiasan, tanpa diamalkan. Ilmu yang tanpa diamalkan hanya akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Ilmu yang tidak diamalkan tidak akan bermanfaat bagi diri sendiri, apalagi orang lain. Selain itu, jangan sampai orang yang mempunyai ilmu menyembunyikan ilmunya dari orang lain; dalam artian, tidakmau mengajarkannya kepada orang lain. Bukankah mengajarkan ilmu kepada orang lain merupakan shodaqoh yang paling utama dan merupakan sarana untuk menjadikan ilmu itu bermanfaat?
Satu hal lagi yang perlu kita ketahui adalah bahwasanya ilmu itu tidaklah berbeda antara yang satu dengan yang lain. Semua ilmu sumbernya adalah dari Allah SWT. Jadi, tidak ada diskriminasi (perbedaan) antara ilmu yang satu dengan yang lain. Ilmu eksak, sosial, kesehatan, hukum, pendidikan, ekonomi, sejarah, teknologi, semuanya adalah ilmu agama dan termasuk ibadah dalam mempelajarinya.

SEMOGA BERMANFAAT