Kamis, 03 Mei 2012
KURSI GOYANG
Berjuta-juta bintang berkerlap-kerlip di rimbunan dedaunan malam. Bersamanya, sebuah senyum menyabit yang berpendam terang di tengah kegelapan. Simfoni-simfoni kehidupan telah sepi walau terkadang masih terdengar sayup-sayup celotehan makhluk Sang Kuasa. Selain itu, berbagai parade musik malam turut serta menyemarakkan indahnya si anti-siang.
‘Slurrrp....’, kusruput kopi yang sudah agak dingin, yang senantiasa menemaniku bernostalgia di sini. Di atas sebuah kursi goyang coklat tua yang tak pernah mengeluh walau kududuki setiap malam.
Di sini, di serambi depan rumah, aku selalu berpikir dan merenung.Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, aku akan duduk bersama ‘Si Tua’, begitulah aku memanggil kursi goyang coklatku, setiap malam sembari menikmati pahitnya kopi. Memandangi hamparan langit yang gelap dan permadani laut yang hitam kelam juga turut serta dalam daftar aktivitasku di sini.
“Huuhh...”, aku mendengus, tepat setelah kuperoleh dua jarum di arlojiku bertumpukkan menunjuk angka terbesar.
Pikiranku menerawang jauh ke belakang. Mengobrak-abrik berbagai pondasi waktu yang selama ini ku tempuh. Terus ke belakang menuju di saat aku masih terjerembab di lubang kesesatan.
“Aah ... A...ku muauu kawin, biyuung.” Aku ngomong sendiri di tengah perjalanan ke rumah sambil berusaha menahan diriku yang sempoyongan.
Jalanku sudah tidak lurus, tapi zig-zag. Tangan kiriku masih mengenggam sebutir botol yang masih berisi setengah. Bicaraku ngelantur, tapi aku masih ingat betul apa yang aku lakukan malam itu. Seakan semuanya terekam dalam sanubariku. Aku tidak tahu kenapa. Tapi beginilah aku. Walaupun aku mabuk berat, tidak ada yang terlupa olehku. Semua kelakuanku yang tanpa kendali terekam baik dalam otakku.
Sementara itu, aku juga dikenal Si Jago Minum. Hari itu saja aku sudah menghabiskan hampir 2 lusin botol dari berbagai merk. Semua ku-dapatkan gratis karena aku selalu menang dalam lomba adu minum.
“Bah, abah !!” sebuah tangan lembut menyentuh pundakku. Aku pun membuka mata.
“Kalau Abah sudah ngantuk, tidur di dalam saja. Di sini banyak nyamuk. Anginnya juga tidak baik buat abah,” ucapnya kemudian dengan nada yang sangat lembut.
“Abah belum ngantuk,ummi...,” jawabku sambil mengelus tangannya yang lembut. “Lha, apa dari tadi ummi belum tidur?” tanyaku kemudian.
“ Oh... tidak, Bah. Ummi tadi terbangun dan melihat pintu depan masih terbuka.Ummi takut abah ketiduran di luar. Abah sendiri sebaiknya tidur.Tidak baik begadang, bah.”
Aku menurut. Aku pun bangkit dari kursi goyangku dan masuk ke rumah sambil bergandengan tangan. Persis seperti orang pacaran. Memang, jiwaku masih jiwa muda. Umurku baru 23 tahun dan ia –si penyejuk kalbu- lebih muda dua tahu dariku.
“Bah, ummi mau sholat tahajud dulu,” katanya, “Silahkan abah tidur duluan saja”.
Aku hanya mengangguk. Ku tatap wajah anggun yang terbungkus jilbab itu sebelum berbalik dan mengikuti empunya pergi mengambil air wudlu. Aku tidak pernah mengira akan berpasangan dengan perempuan yang sholihah. Apa mungkin ini keseimbangan? Berandalan dengan ahli ibadah? Atau juga ini hanya perbaikan keturunan?
“Aah..”, aku mendesah pelan. Kupejamkan kedua mataku sesaat setelah menerawang langit-langit kamarku. Aku hanya menganggap semua ini adalah karunia Allah SWT yang diberikan kepadaku. Aku tersenyum sembari menelurkan butir air mata. Bila kumengingat masaku dulu, sepertinya tidak pantas aku menerima semua ini. Namun, aku yakin Allah adalah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau berubah.
Semburat awan hitam yang melayang-layang mengiringi nihilnya kesadaranku. Bulan dan bintang-bintang yang tadi bersinar, kini harus sendiri tanpa seorang pun yang menikmatinya. Aku yakin, hampir semua manusia di dunia ini tidak pernah melewatkan malam dengan menikmatinya di atas sebuah kursi goyang tua coklat sambil menyruput kopi.
Siklus perputaran bumi terus berlanjut, begitupula jarum penunjuk waktu. Fajar kidzib telah datang, lalu berturut-turut dengan menggantikan sebelumnya; fajar shodiq, bedug subuh, waktu dhuha dan empat sholat lainnya hingga waktu favoritku tiba.
“Aku sudah menunggumu,malam!” pekikku pelan di atas kursi goyang kesayanganku.
“Bah, ini kopinya,” senyum ummi sambil meletakkan kopi di meja.
“Terima kasih,ummi,” aku pun tersenyum membalas.
“Jangan terlalu malam tidurnya, ya, bah,” ucapnya kemudian, lalu masuk ke dalam.
“He’em...,” jawabku singkat.
‘Sluuurrp....’ Hangat dan mantap. Cocok untuk kegelapan malam. Aku pun mempersiapkan diri untuk bernostalgia lagi dengan memoriku setelah sruputan yang kedua kali.
Ingatanku meloncat. Tepat di era aku mulai meretas tuntas tingkah laku dan memulai hidup baru. Zaman di mana aku luluh dan takluk di hadapan seorang gadis yang lugu dan –menurut Maman, teman berandalku- lucu karena tidak punya nafsu untuk berbuat ini itu.
“Eh, Man. Gadis itu cantik juga,ya,” ucapku suatu hari ketika melihat seorang gadis berjilbab lewat di depan base campku.
Maman yang mendengarku tertawa, “Cantik sih cantik, tapi ya itu. Nggak punya nafsu”.
“Gak punya nafsu gimana maksud kamu, Man?” aku sedikit tersentak ketika mendengarnya. Maman tertawa lagi, tapi agak pelan. “Kamu tunggu saja nanti kalau dia lewat lagi,” ujarnya kemudian.
Aku semakin bingung. Pikiranku melayang-layang, mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan Maman tunjukkan. Maman hanya tersenyum geli melihatku. Dia membiarkanku berada di alam penasaran.
“Eh, Man. Tuh orangnya dah kembali,” ucapku kepada Maman ketika kulihat gadis tadi kembali sambil menenteng plastik.
“Hehh !!”, Maman menggertak jengkel karena tepukan tanganku ke pundaknya tadi mengganggu konsentrasinya untuk membuat ‘love’ dari asap rokok.
Aku hanya tersenyum geli. “Katanya mau nunjukin kalau kalau dia gak punya nafsu. Gih cepetan!” pintaku kemudian, menagih janjinya.
Dia pun turun dari angkruk, base campku bersama teman-teman, lalu menuju jalanan dan berdiri persis seperti akan mencegat angkot.
“Hai, Ning!” sapanya sambil melambaikan tangan. “Sini mampir ke base camp abang!” ucapnya kemudian.
Tak ada jawaban. Hanya sedikit tolehan yang diterima Maman. Itupun hanya setengah wajah yang menyiratkan rasa kaget dan sedikit rasa takut bercampur jijik. Setelah itu, dia pun kembali fokus ke depan dengan mempercepat langkahnya.
“Lihat gak kamu. Masa’ abang ganteng gini dicuekin,” teriak Maman sambil menyibakkan rambut punknya. “Emang gak punya nafsu tuh bocah,” gumannya sambil menggelengkan kepala.
Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya.“Itu sich bukannya gak nafsu. Tapi kamunya aja yang kepede-an,” jelasku sambil berusaha memarkirkan rasa ingin tertawaku.
“Man..., kalau aku yang jadi gadis itu, aku pun gak mau disapa sama orang serem gini,” ucapku kemudian sambil menunjuk wajah Maman.
“Masa’ wajahku serem, sih,” gumannya kemudian.
‘Sluurrp....,’aku menyruput kopi untuk yang ketiga kalinya.
“Wahai malam, sampaikanlah salamku kepada Maman!” ucapku pelan.
Kusruput kopi buatan ummi sekali lagi. Sekarang dia hanya tinggal separo, yang separo lagi hanya berisi udara kosong. Kupandang ia lekat, seperti dua sisi yang saling melengkapi siang dan malam. Aku tersenyum, lalu mengalihkan perhatianku terhadap kegelapan malam di depanku. Terdengar debur ombak yang meliuk-liuk menyejukkan suasana. Namun sayang, teman-temanku kemarin tidak hadir karena terhalang oleh awan mendung. Tapi tidak apalah,ada hal yang tidak kalah menarik bersedia menggantikanya. Terpampang besar di sana, selaksa layar bioskop yang sedang menayangkan jawara box office pekan ini.
Aku menyaksikan diriku sedang bergerilya membuntuti seorang gadis berjilbab. Gadis yang kemarin membuat Maman bertingkah konyol dan membuatku merasa berbeda. Dari informasi yang kudownload dari si Punker Boy, begitulah Maman menjuluki dirinya, gadis itu bernama Ningrum. Anak kampung sebelah dan memiliki paklik di kampungku. Dia juga merupakan teman sekelas Maman di SD, tapi sekarang sedang nyantri di sebuah pesantren terkenal. Sedangkan Maman, dia memilih menjadi korban D.O. SMPnya. Mungkin dia sekarang sedang menikmati liburan pasca ujian kalau melanjutkan sekolahnya. Sedangkan aku -lima tahun yang lalu, setelah lulus SD- aku memilih menjadi berandalan daripada sekolah, aku pun menjadi anti dengan hal yang berbau sekolah.
“Aaaauuuw!” aku menjerit keras sambil memegangi kepalaku. Ada yang menyengatku.
“Keparat!!” umpatku kemudian setelah melihat seekor lebah yang tersenyum mengejekku. “Awas, kamu!!”
Kepalaku berdenyut. Membengkak. Aku merasakan sakit yang datang silih berganti. Tapi, aku tidak mau misiku gagal. Aku pun melanjutkan gerilyaku. Kulihat gadis itu mempercepat langkahnya. ‘Apa mungkin dia tahu aku mengikutinya, ya?’ tanyaku dalam hati.
“Lebah sialan!” umpatku lagi.
Tak mau ketinggalan labih jauh, aku segera membuntutinya. Kali ini aku lebih berhati-hati. Aku melihatnya sedikit merasa cemas dan waspada, terlihat jelas dari cara berjalannya. Beberapa saat kemudian, dia memasuki rumah bercat hijau yang terletak di sebelah utara masjid.
“Assalamu’alaikum!” uuh, suaranya lembut menggetarkan kalbuku.
“Wa’alaikumsalam!” jawab seorang ibu paruh baya yang sedang menjemur pakaian di depan rumah, “Tumben sudah pulang nak?”
“Tadi ustadznya ada udzur. Jadi, ngajinya diliburkan,” jawabnya lembut.
“Oh, jadi ini rumahnya,” gumamku pelan.
Hatiku ceria, gembira tiada tara. Perasaan berbeda yang dari kemarin menyelimutiku, kini bertambah dominan. Aku sadar diriku telah terpikat dengannya.
“Kapan kamu balik pondok, nak?” tanya ibunya.
“Insya Allah lusa,bu. Sekalian nanti sowan sama yai untuk boyong,” jawabnya, lalu masuk ke dalam.
Seaat kemudian, dia keluar sambil menenteng sapu.
“Kamu jadi ingin pindah ke Kudus?” tanya ibunya lagi saat ia mulai menyapu.
“Ya, Bu, Ningrum ingin sekali menjadi hafidloh. Kan jarang sekali remaja sekarang yang menekuninya. Langka. Ningrum ingin sekali menjadi barang langka,” jawabnya. Sesaat ia menghentikan pekerjaannya. “Kata pak yai, ‘Fathubalil Ghuraba’. Sungguh beruntung orang-orang yang asing atau langka,” lanjutnya sambil tersenyum.
“Manis sekali,”aku berguman. Dadaku bergemuruh.
“Ya,sudah. Ibu hanya bisa berdo’a agar Allah mengabulkan cita-cita dan harapanmu.”
“Amiieeen...!” tanpa sadar aku mengucapkannya, berbarengan dengan Ningrum.
Sejam telah berlalu, tapi aku masih belum beranjak dari mengamati rumah Ningrum. Aku bersyukur kedua pohon mangga ini bisa menjadi tempat pengintaianku, tanpa ada yang mengganggu. Padahal, matahari sudah semakin ke barat. Selain itu
‘Allahu Akbar - Allahu Akbar’
‘Allahu Akbar -Allahu Akbar’
Kulihat Ningrum segera menghentikan aktifitasnya membaca buku. Dia pun masuk ke dalam meninggalkan kursi goyangnya yang masih berjungkat-jungkit ke belakang. Sesaat kemudian, ia keluar sambil mendekap sajadah dan mukena. Dia menuju masjid, begitupula ibunya yang berjalan di depan.
“Lagi ngapain, Bos?” aku kaget. Seseorang menepuk punggungku. Aku pun menoleh.
“Ealaaah...,kamu Pin?” ternyata Ipin, salah satu anggota genk berandalku.
“Lagi ngapain di sini?” ulangnya lagi.
“Ee... ti-tidak apa-apa.”jawabku gugup. Ipin hanya tersenyum.
“Eh, jangan lupa nanti malam ada rapat,”ucapku sambil melenggang pergi. ”Dan jangan lupa bawa duit duapuluh ribu ya”
“Nggak sholat dulu, bos?” teriaknya karena aku sudah sedikit jauh.
“Besok sajalah,”teriakku lebih keras.
‘Sluurrrp....,’ kopi yang kusruput sudah terasa dingin. Aku belum ingin menghabiskannya. Kusisakan untuk yang terakhir kali. Kemudian aku pun menikmati iklan gelegar halilintar. Aku heran, kenapa bioskop memiliki iklan. Apa karena bioskop malam? Aku tidak tahu, lebih baik aku melanjutkan menonton bioskop terbesar di dunia.
Malam sudah mulai merajut tubuhnya. Sudah hampir sampai kepala. Tidak ada kepekatan seperti sekarang ini di sana. Bulan berpendar dengan wajah sempurna, ditemani bintang-bintang yang tidak mau berkedip walau seperseribu detik lamanya. Suara tawa di base campku menemuhi malam itu. Berbagai botol dari campuran alkohol plus-plus tergelak berantakan. Sebagian yang masih berisi sedang bergoyang ria sambil kencing di depan mulut-mulut pemegangnya. Namun, belum ada yang teler mutlak di sana.
“Nggak minum Bos?” tanya Sotoy kepadaku.
“Iya Bos. Tumben nggak minum?” imbuh Qbenx.
Aku hanya terdiam cemas, menunggu kahadiran Ipin. Arlojiku sudah menunjukkan pukul delapan.
“Wah, jangan-jangan Bos Cekol udah tobat nich,” celoteh Maq. “Gara-gara kesambet cewek kalee,” imbuh Maman.
“Ha-ha-ha,” gelak tawa mereka membahana, meramaikan malam yang indah itu. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Udah.. jangan ribut. Aku ada urusan sama si Ipin“, akhirnya aku bersuara ketika melihat Ipin menggenjot sepedanya mendekat.
“ Emangnya, mau ke mana kau?” tanya Maman begitu melihatku menghampiri Ipin.
“Udah,kamu di sini saja. Jaga anak-anak, jangan sampai ada yang pergi sebelum kita balik,” jawabku sambil membonceng sepeda Ipin. Ipin hanya melongo.
“Ok,”jawab Maman dan kembali berminum ria.
“Pin, kita ke rumahmu!” Ipin hanya diam tanpa bertanya. Dia segera memutar balik sepedanya dan menggenjotnya dengan kecepatan penuh.
“Stop dulu, Pin!” aku menepuk pundaknya tepat di depan tukang bakso. “Beli bakso dulu, udah bawa duit, kan?” pintaku kemudian.
Dia menurut, lalu menyandarkan sepedanya di pohon palem. ”Ya, bawa,” jawabnya kemudian.
“Bang, bakso dan es dua,” pesanku lalu duduk. Ipin hanya menurut.
“Sorry, Pin!” gumanku pelan.
“Kenapa?” tanya Ipin heran.
“Soal uangnya,” jawabku, ”kan kamu gak makan uang curian ayam. Jadi, makai uangmu dijamin halal,” jelasku sambil meringis.
“Halah...halah, ternyata,” Ipin menonjokku pelan. ”Eh, tadi sore ngapain di bawah pohon mangga gitu?”
“Justru itu, aku ingin merapatkannya dengan kamu,” jawabku membuat Ipin heran. ”Setelah itu kita ke rumahmu.”
Bakso dan es teh sudah datang. Ipin menerimanya dan memberikan sepasang untukku. “Rapat apa?” tanyanya kemudian.
Aku menarik napas pelan. “Begini, Pin...,” aku mulai bercerita tentang apa yang kulalui kemarin dan tadi sore.
“Ooo...,” ucap Ipin setelah mendengarku. Lalu dia tertawa hingga tersedak.
“Tapi berat, bos. Orang sekaliber Ningrum, sulit ditaklukkan. Pandangan mata sama laki-laki saja tak pernah. Aku yakin, dia bakalan ogah diajak pacaran,” Ipin langsung nyerocos begitu sedaknya hilang.
“Siapa yang mau pacaran. Besok malam temani aku melamarnya.”Ipin kaget hingga tersedak lagi begitu mendengar ucapan tadi. Dia pun meneguk es tehnya habis.
“Beneran Bos?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk.
“Tapi, Ningrum itu anak sholihah. Ibadahnya rajin, jamaahnya gak pernah telat. Ngajinya tekun, puasanya gak pernah bolong. Jadi ustadzah di masjid. Calon Hafidloh pula,” Ipin nyerocos lagi. “Pokoknya nggak ada dech gadis di kecamatan ini yang seperti dia. Perlu usaha yang berat,” tambahnya lagi.
“Makanya aku butuh kamu, Pin. Kamu kan anaknya pak Ustadz, alim pula,” aku memandang Ipin lekat,”Tolong malam ini beri aku les privat tentang agama. Cuma kamu yang pinter ngaji di genk kita. Cuma kamu yang gak mau curi ayam dan minum.”
Ipin mengangguk. Setelah itu, dia segera totalan dengan tukang bakso lalu menghampiriku untuk segera cabut ke rumahnya. Aku senang melihat gairah Ipin yang begitu bersemangat mengayuh sepedanya.Sesampai di rumahnya, Ipin segera membawaku ke kamarnya dan memulai lesku.
“Pin, makuaaasih banyak, yaa...,” aku menguap,lalu tertidur.
‘Gluduk-gluduk’,selain halilintar, ada iklan lain yang menyelingi bioskop malam ini. Suara hempasan ombak pun tidak mau ketinggalan. Aku hanya menikmatinya sambil menghayati goyangan Si Tua. Begitu bioskop dimulai lagi, persyaratan Ningrum sedang diajukan.
“Ningrum menerima pinangan akhi bila akhi bisa memenuhi syarat yang Ningrum ajukan. Selain ingin menjdai hafidhoh, Ningrum juga ingin berkhidmah kepada suami yang hafidh pula,” jawabnya lembut dan tetap menundukan kepala. “Datanglah kemari 5 tahun lagi, tepat setelah umur Ningrum 20 tahun”.
Langit menjadi gelap lagi. Bioskop telah selesai. Kusruput kopiku untuk yang terkhir kalinya. Aku tidak pernah mangira akan memiliki takdir hidup sebagai pasangan hafidh-hafidhoh dengan Ningrum. Aku berharap pula anak yang kini sedang tidur di rahim Ningrum dapat melengkapi hawa Al-Qur’an di rumah ini.
‘Tes, tes, tes’, kondensasi awan rupanya telah berubah menjadi butiran pemisah antara aku dan malam. Aku pun bangkit dan menenteng kursi goyangku ke dalam. Tak rela aku membiarkannya kedinginan bersaman gelapnya alam. Ialah satu-satunya warisan mendiang ibu mertuaku yang senantiasa menemaniku mengingat masa kelam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar