Jumat, 20 April 2012
PERAN ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM
Kilas balik beberapa abad silam, dimana ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali didatangi oleh Jibril. Di sana, Allah SWT menurunkan ayat yang pertama kali, yaitu tentang pengenalan terhadap Tuhan dan ilmu. Kala itu, Jibril berkata : “Iqro’ ( bacalah )!” Nabi Muhammad menjawab : “Maa ana biqori’ (saya tidak dapat membaca)”. Kemudian Jibril mengulang perintahnya kembali dan Muhammad pun selalu memberi jawaban yang sama. Hal ini berulang sampai 3 kali hinggga akhirnya Jibril berkata :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq : 1-5)
Dalam wahyu pertama tersebut, terdapat kata iqro’ (bacalah) dan bil qolam (dengan perantara kalam/pena). Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sarana mencari ilmu adalah dengan membaca dan menulis. Dengan membaca, kita bisa mendapatkan banyak wawasan, referensi, informasi, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Sedang dengan menulis, kita bisa merekam apa yang telah kita dapatkan. Selain itu, dijelaskan pula bahwasanya sumber segala ilmu adalah Allah SWT. Hal ini tersirat pada ayat pertama, dimana Allah menyuruh hamba-hambaNya agar mengawali sebuah bacaan dengan menyebut nama-Nya. Dan pada ayat-ayat selanjutnya diterangkan bahwa Dialah Dzat yang pertama kali mengajarkan ilmu kepada para manusia.
Dalam agama Islam sendiri, menuntut ilmu hukumnya adalah wajib ‘ain, artinya bagi setiap umat muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu. “Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kullimuslimin wa muslimatin, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim laki-laki dan perempuan”, begitu sabda Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dalam hadits beliau yang lain, disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan kepada umatnya agar menuntut ilmu mulai ketika masih di ayunan hingga liang lahat (minal mahdi ilal lahdi). Hal ini dikarenakan ketika manusia dilahirkan, mereka tidaklah mengetahui apa-apa (bodoh), sehingga perlu suatu proses pembelajaran dalam menempuh kehidupan.
Ilmu merupakan hal yang sangat vital perannya dalam kehidupan. Tanpa ilmu, orang-orang akan seperti kehilangan pedoman dan pekerjaan pun tampak terlihat sia-sia belaka serta kurang bermanfaat, bahkan merugikan. Sebagai contoh, seorang petani. Apabila dia tidak mengetahui seluk beluk tentang pertanian, tentulah dia akan asal-asalan dalam bertani sehingga tidak mendapatkan hasil maksimal, bahkan mungkin rugi. Begitupula seorang nelayan, jika dia tidak mengetahui tentang kondisi laut, angin, tempat-tempat berkumpulnya ikan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan profesinya; tentu dia akan kebingungan akan melaut kapan dan dimana. Hal ini tentu berlaku pula bagi setiap profesi dan bidang apa pun.
Peran dan keutamaan ilmu dalam kacamata Islam sangatlah penting sehingga banyak sekali keuntungan-keuntungan bagi orang yang berhubungan dengan ilmu, baik yang mencari maupun yang mengajarkan. Di antara keuntungan mencari dan mengajarkan ilmu adalah :
1. Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang tidak akan terputus pahalanya walaupun pelakunya sudah meninggal. Sabda Nabi : “Manakala anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal ibadahnya kecuali 3 perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)
Ilmu yang bermanfaat merupakan ilmu yang diridhoi oleh Allah, baik ilmu yang membahas tentang ayat-ayat qouliyah ataupun tentang ayat-ayat kauniyah. Ilmu akan jadi bermanfaat bila pemilik ilmu tidak hanya menikmatinya sendiri, tetapi orang lain juga ikut mengecap manfaatnya. Jadi, wajarlah jika pahala ilmu tersebut akan tetap mengalir walaupun empunya sudah meninggal karena tetap ada orang yang mengamalkannya.
2. Menuntut ilmu memudahkan jalan menuju surga. Rasulullah bersabda : “Tidaklah seseorang keluar rumah untuk menuntut ilmu kecuali Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Tabrani)
Dengan menuntut ilmu, seseorang akan mengetahui jalan mana yang dirihoi oleh Allah. Untuk memperolehnya, tentu butuh perjuangan lahir dan batin karena banyak godaan dan rintangan baik dari dalam diri maupun dari luar. Jikalau perjuangan itu telah berhasil, niscaya Allah telah meridhoi dan jalan menuju surga tentulah telah terbuka.
3. Mengajarkan sebuah ilmu merupakan sebaik-baik shodaqoh. Dalam hadits, Nabi menjelaskan : “Sebaik-baik shodaqoh adalah ketika seorang muslim mempelajari sebuah ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya (muslim lainnya).” (HR. Ibnu Majah)
Ilmu yang dimaksud di sini tidaklah terbatas pada ilmu yang membahas masalah keagamaan saja, tetapi juga ilmu pengetahuan seperti keterampilan, kewiraswastaaan, ilmu alam, dan ilmu sosial.
4. Para penuntut ilmu akan diangkat derajatnya di sisi Allah. Telah dijelaskan hal tersebut oleh Allah sendiri dalam firman-Nya : “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi/menuntut ilmu beberapa derajat.”(Al-mujaadalah : 11)
Orang yang berilmu tentu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang memiliki pengetahuan tentu akan lebih mudah dalam menjalankan kehidupannya dan terkadang posisi sosialnya pun lebih tinggi daripada orang yang tidak berpengetahuan. Oleh karenanya, tidaklah heran bila Allah juga menempatkan orang yang berilmu lebih tinggi kedudukannya di sisi-Nya. Dengan catatan, ilmu tersebut dibarengi dengan iman dan taqwa kepada Allah.
Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya ilmu merupakan hal pokok dalam hidup. Dengannya, hidup akan terasa lebih mudah dan damai. Di samping itu, menuntut ilmu juga mempunyai keutamaan-keutamaan yang sangat banyak, diantaranya : derajat para penuntut ilmu diangkat beberapa derajat oleh Allah di sisi-Nya, dimudahkan jalan menuju surga, dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menuntut ilmu hingga tubuh menyentuh liang lahat.
Namun, hal yang perlu diperhatikan bagi penuntut ilmu adalah jangan sampai ilmu yang ia miliki hanya menjadi hiasan, tanpa diamalkan. Ilmu yang tanpa diamalkan hanya akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Ilmu yang tidak diamalkan tidak akan bermanfaat bagi diri sendiri, apalagi orang lain. Selain itu, jangan sampai orang yang mempunyai ilmu menyembunyikan ilmunya dari orang lain; dalam artian, tidakmau mengajarkannya kepada orang lain. Bukankah mengajarkan ilmu kepada orang lain merupakan shodaqoh yang paling utama dan merupakan sarana untuk menjadikan ilmu itu bermanfaat?
Satu hal lagi yang perlu kita ketahui adalah bahwasanya ilmu itu tidaklah berbeda antara yang satu dengan yang lain. Semua ilmu sumbernya adalah dari Allah SWT. Jadi, tidak ada diskriminasi (perbedaan) antara ilmu yang satu dengan yang lain. Ilmu eksak, sosial, kesehatan, hukum, pendidikan, ekonomi, sejarah, teknologi, semuanya adalah ilmu agama dan termasuk ibadah dalam mempelajarinya.
SEMOGA BERMANFAAT
Langganan:
Komentar (Atom)