Puisi 1
DALAM HUJAN
Tetesanmu merdu dalam
siang menjemput sore.
Senyummu memukau tiap padi yang siap ditanam.
Gemerisikmu menambah sejuknya jiwa
di sore hari.
Ingin ku terlelap dalam arus rimamu.
Sang Bayu hanya bergerak semilir,
sementara Surya bergerak mendecit.
Sang Tirta berkejar-kejaran dalam deburan aliran sungai yang semakin menggemuruh,
sedang api terlunta dalam kedinginan.
Dewi Sri tersenyum karena anaknya siap melangkah ke sawah.
Di lain hilir,
Suasana gempar, bah melanda, harta terbuang.
Tubuh kuyup, bahkan menghilang meninggalkan tangis perih.
Air mata tidak tampak akibat bercampur dengan air hujan.
Di sana dan sini hanyalah tampak pancaran air dan benda mengambang.
Banyak orang mendaki.
Jalanan berduri dilalui.
Mengharap selamat diri, anak dan istri menghampiri.
Sambil menahan sedih tak terperi,
sebab harta ikut terjun ke kali.
Naik ke hulu,
tampak orang yang sedang tersenyum riang,
tanpa memandang gerimis yang berkembang.
Dan air bah yang terus melekang di bawah sana.
Seolah tak ada beban dalam pundak mereka.
Dan dengan ringannya, lengan mereka mengayun ke belakang.
Terdengarlah bunyi kulit pisang berdebum, menyipratkan sejumlah air.
Lalu berjalan mengikuti arus air.
Lagi, sebuah bungkus rokok melayang, menyusul
kulit pisang yang sudah jauh ke bawah akibat derasnya arus.
Tak lama kemudian, sebuah karung menumpahkan isi perutnya.
Tampak berhamburan zat-zat sisa yang siap berenang mengikuti aliran sungai.
Semua tampak egois.
Tak pernah melihat sekeliling.
Yang sejenis pun tidak,
palagi yang beda gerak dan beda cara bernapas.
Semua seolah menutup telinga, mata, dan indra peka.
Empati lenyap, apalagi simpati.
Keduanya telah terbawa arus bersama para sampah-sampah tak berdosa,
namun kadang disalahkan akibat bau menyengat dari tubuh mereka.
Sekarang, mereka tertahan dihantam gelombang arus air sungai yang semakin deras.
Selasa, 06 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar