PENERAPAN TEKNOLOGI DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL
Pangan, yang merupakan salah satu bahan pokok (primer)disamping sandang dan papan memang begitu diperhatikan dari sejak zaman dahulu hingga sekarang. Banyak tokoh pemikir dunia seperti Thomas Malthus (1798), Ehrlich (1968), seta Brown & Kane (1994) yang sempat memprediksi bahwa dunia akan mengalami kelaparan. Pendapat mereka ini didasarkan atas semakin bertambahnya jumlah penghuni bumi sementara kapasitas bumi tidak bertambah. Sebagai contoh, banyak terjadi kelaparan di berbagai belahan dunia seperti Irlandia (1840), China (1780-1790), India (1940), dan Greenland (1987). Bahkan, hingga sekarang pun masih banyak kasus kelaparan dan kurang gizi di berbagai tempat seperti Somalia, Ethiopia, bahkan di berbagai daerah di negara Kita.
Namun secara umum, kondisi pangan sekarang lebih stabil dan mencukupi dibanding dengan zaman dahulu. Sebagai perbandingan, ketersediaan pangan antara kurun waktu 1975-2005 jauh lebih baik daripada di antara tahun 1940=1975. hal ini tercermin dari harga bahan pangan pokok (beras, gandum, jagung) di pasar internasional dan nasional lebih rendah pada tahun 2000 dibandingkan pada awal tahun 1900-an. Hal ini terjadi karena adanya beberapa terobosan teknologi baru yang muncul dalam bidang pertanian.
Walaupun begitu, banyak juga pendapat-pendapat yang kontra tentang penggunaan teknologi dalam bidang pertanian dengan alasan : 1) petani menjadi tergantung pada sarana produksi industri/ di luar usaha tani, 2) adanya pencemaran lingkungan oleh residu kimiawi sarana produksi, 3) pemiskinan keanekaragaman hayati, 4) kurang terjaminnya keamanan konsumsi produk pertanian, dan 5) pertanian dikhawatirkan menjadi tidak berkelanjutan. Sebenarnya, masalah-masalah seperti ini dapat dihindari apabila penggunaan teknologi secara teratur, sesuai prosedur dan ramah lingkungan.
Adapun teknologi yang sedang digencarkan adalah Teknologi produksi tanaman pangan yang bercita-cita untuk mewujudkan 'Pertanian Tanaman Pangan Berbasis IPTEK'. Prinsip dari teknologi ini adalah bagaimana menggunakan alat yang serba canggih untuk membuat dan mengatur sumber daya lahan, air dan iklim; alat mesin pertanian; sarana biologis, varietas dan benih; sarana produksi sintetis; menjadi sedemikian rupa sehingga masih tetap menjaga kelestarian dan keberlanjutan alam sekitar yang semakin lama semakin rusak. Dengan adanya teknologi seperti ini diharapkan para pemuda sekarang tidak anti dan alergi terhadap hal-hal yang berbau pertanian. Oleh karena itu, pada tahun 2025 ditargetkan agar sistem pertanian adalah "full mechanized" atau penuh dengan mekanisasi.
Contoh pertanian yang berbasis IPTEK yaitu pertanian dengan teknik hidroponik dan aeroponik. Kebutuhan hara telah dapat disediakan secara tepat guna memperoleh pertumbuhan dan produksi yang optimal. Larutan hara sesuai dengan ilmu fisiologis-agronomi juga dapat disediakan secara tepat dosis dan tepat waktu sehingga tanaman tumbuh dan berproduksi secara optimal. Hal-hal seperti inilah yang telah dilakukan di negara-negara maju mengingat kondisi lahan mereka yang begitu minim. Indonesia harusnya juga mencontoh hal ini sehingga kebutuhan pangan dalam negeri tercukupi dengan tidak mengandalkan impor, melainkan asli hasil dari pertanian nusantara. Hal ini menjadi sangat penting melihat semakin bertambahnya penduduk Indonesia yang berbanding terbalik dengan luasnya lahan pertanian. Oleh karena itu, hal yang menjadi sangat vital dalam terwujudnya hal ini adalah pembinaan pemerintah dan pemberian fasilitas terhadap para petani di Negara yang pernah mencicipi bagaimana nikmatnya menjadi negara swasembada beras.
Direview dari http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Pros_Sumarno_06.pdf
Senin, 26 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar