Selasa, 14 Februari 2012

KETIKA SENJA MERAJUT MALAM


Di tengah balutan senja yang kian merajut malam, Joko duduk termenung di tengah tanah lapang nan kekuningan. Terbayang olehnya akan masa depannya yang kini masih terombang-ambing ombak kegamangan. Sesekali ia memejamkan mata dan berharap ketika matanya terbuka, cakrawala menampakkan jawaban yang ia harapkan. Namun, harapannya hanya sia-sia karena cakrawala semakin menjauh ditiup angin darat yang dinantikan para nelayan.
“Huh….,” dia mendengus kesal.
Dihelanya napas panjang untuk menjernihkan otaknya tatkala para camar berombongan pulang ke peraduan. Dikepalkan pula kedua tinjunya, lalu dijejakkan ke tanah yang semakin lama terbenam kegelapan. Matanya pun terpejam sambil mencoba meresolusi masalah yang kini menjejali otaknya.
“Aaah...hh…” Tapi dia gagal.
“Ya, Allah. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku vakum dari dunia pendidikan, ataukah aku harus menjajakinya lagi untuk menggapai asaku?”
Sementara itu, 540 meter ke timur, sebuah rumah reyot seluas 12 meter persegi sedang dilanda kecemasan dan kekhawatiran. Tampak di dalamnya, si empu rumah sedang menunggu kehadiran seseorang. Sesekali ia bangkit dari tempat tidurnya dan melongok ke pintu, mengharap seseorang membukanya.
“Uhukk, uhukk...,” dia terbatuk. Tangannya gemetar memegangi ulu hatinya. Sementara kakinya juga menggigil menopang tubuhnya yang hampir tersungkur. Tangan kirinya pun turut berpartisipasi dengan memegang sandaran kursi.
“Kamu dimana, nak?” gumamnya pelan.
Hati orang ini memang sudah dicabik-cabik oleh rasa cemas, takut, dan khawatir. Pipinya pun basah oleh tetesan luh. Matanya nanar mengambang dipenuhi bercak air mata kepedihan. Ditambah lagi kondisi tubuhnya yang sudah terdegradasi akibat lamanya usia, membuat tubuhnya tidak kuasa lagi menjejakkan kedua kakinya di tanah. Dia pun terhuyung.
‘Tok, tok, tok’
“Assalamu’alaikum..!” sebuah salam membuatnya tertahan.
“Wa’ala...ikum s..sa..salam,” jawabnya sambil berusaha menghimpun kekuatan. “Sia..pa..ya?” tanyanya kemudian.
“Aldi, pak.”
“Ooh... uhukk. Ma..ma..suk saja nak!” ujarnya berat. Dia pun sudah tak kuasa lagi menahan berat badannya hingga akhirnya luruh ke lantai rumahnya.
Aldi, begitu membuka pintu, langsung sigap membantunya berdiri dan menopangnya ke kamar. Dia tidak menduga sebelumnya bakal menyaksikan pemandangan yang memilukan ini. Dia juga heran, kemana Joko pergi hingga tega meninggalkan bapaknya dalam kondisi yang seperti itu. Dia juga tidak habis pikir, kenapa pula Joko tidak pernah bercerita tentang kondisi bapaknya yang separah ini. Setahunya, Joko hanya bilang bahwa bapaknya sedang sakit, hanya begitu saja tanpa keterangan apapun. Dan ia sendiri pun tidak pernah melihat bapak Joko separah ini kondisinya ketika bertandang.
Sesaat setelah dia mengambilkan air minum, dia mencoba bertanya perihal Joko. Beruntung, kondisi bapak Joko juga sudah mulai stabil sehingga bisa diajak bicara.
“Pak...,” panggilnya pelan. Tapi, sepertinya bapak Joko tidak mendengar.
“Pa...”
“Nak Aldi, terima kasih, ya. Bapak sudah merepotkanmu,” ujar bapak Joko memotong perkataan Aldi.
“Oh, tidak apa-apa, pak,” jawab Aldi pelan. “E, ngomong-ngomong, Joko kemana, ya Pak?” tanyanya kemudian.
“Sebenarnya, bapak juga masih bingung, nak,” jawab bapak Joko sambil menatap langit-langit kamarnya yang penuh dijejali rumah laba-laba. “Joko dari tadi pagi belum pulang, nak. Bapak juga tidak tahu keberadannya sekarang. Bapak khawatir kalau terjadi apa-apa dengannya.”
Aldi hanya terdiam. Tampak dari pelupuk matanya seorang bapak tua yang sedang menitikkan air mata. Tampak juga olehnya sebuah raut wajah yang menggambarkan kecemasan dan kekhawatiran tingkat tinggi. Aldi merasa hatinya diiris-iris oleh sembilu dengan pemandangan tersebut. Dalam hati, dia mengutuk Joko yang tidak kunjung pulang. Tapi, dia juga bingung. ‘Ada gerangan apa yang membuatmu belum pulang, Jok?’ tanya hatinya.
“Nak,” panggil bapak Joko lirih.
“Ya, pak.”
“Apa tadi Joko tidak bilang apa-apa sama kamu, entah dia ada tugas sekolah atau mau pergi kemana?”
Aldi hanya geleng-geleng. Hatinya semakin terasa perih. Dia masih berusaha menahan bendungan yang selama ini mencoba membuatnya luruh. Namun, dia sudah tidak kuasa lagi berucap, bibirnya hanya mengigil mencoba mengatakan sesuatu. Tapi, dia gagal. Ternyata, dia belumlah setegar bapak Joko walaupun keadaannya hanya sebagai penikmat kejadian.
“Allahu akbar, Allahu akbar,” terdengar suara lantunan adzan maghrib yang menggema di seluruh jagad raya. Para insan muslim pun segera berkemas dan bergegas menuju lembah pengabdian.
“Sudah maghrib, nak,” ujar bapak Joko. “Apa kamu tidak pulang?”
“Tidak, pak,” jawab Aldi.
“Lho, apa nanti kamu tidak dicari sama orang tuamu?”
“Tapi, pak…?”
“Sudah, kamu pulang dulu. Nanti bapak tidak enak sama bapakmu.”
“Tapi, beliau sudah tahu kalau saya ada disini. Saya tadi sudah izin,” Aldi mencoba menjelaskan.
“Tapi, tidak sampai malam, bukan?’ ucap bapak Joko sambil tersenyum. Sebenarnya, hatinya trenyuh melihat keinginan sahabat Joko sedari kecil ini. Namun, dia tidak mau keadaannya yang labil itu sampai merepotkan orang lain.
Sementara itu, Aldi tak kuasa lagi membantah. Di samping kasihan, Aldi juga tidak mau membuat satu-satunya orang tua temannya ini merasa terbebani. Walaupun sejatinya, benih-benih rasa simpati masih menjalar di sekujur tubuhnya. Namun, rasa respek dan hormatnya harus membuat ia mengucapkan kata pamit. Tapi, dia punya rencana lain di balik itu semua.
Kumandang adzan telah selesai berkumandang. Para jama’ah masih terlihat berbondong-bondong mengambil air wudlu. Kabut malam sedikit demi sedikit mulai merayap menyebar kepekatan. Sementara yang lain, seakan tidak sadar akan datangnya gelap, sehingga masih asyik saja di depan koran. Matanya menelusuri segenap berita utama hari ini. Mulai berita kasus korupsi pejabat, kongkalikong petinggi PSSI, kriminalitas dan huru-hara di negeri tetangga, kasus asusila yang merambat segala umur, hingga pengeroyokan terhadap pengutil yang tertangkap CCTV. Herannya, hampir tidak ada hari yang tanpa berita kejahatan, terutama di negerinya. Namun, semua itu hanya berlaku tanpa pertanda akan kepulangan Joko. Bahkan, ketika jama’ah Isya’ sudah bubar, penantian akan kedatangannya masih berlanjut.
‘Tok, tok, tok.’
“Joko...?” Secercah kegembiraan mulai terpancar dari raut wajah bapak Joko begitu mendengar suara pintu diketuk.
“Assalamu’alaikum. Ini Aldi, pak,” suara dari luar membuatnya kecewa, Allah belum mewujudkan harapannya.
“Masuk saja, nak,” jawabnya kemudian.
“Lho, bapak sudah baikan?” tanya Aldi begitu melihat bapak Joko di ruang tamu sambil menikmati teh.
“Alhamdulillah, nak... uhukk...” jawabnya sambil mempersilahkan Aldi duduk menemaninya.
“Ini ada titipan dari Ibu, pak,” ujar Aldi.
“Apa, nak. Kok repot-repot segala.”
“Ah, tidak apa-apa, pak.”
Orang tua itu hanya bisa melihat sahabat anaknya yang membongkar rantang bawaanya. Tidak lama kemudian, sebuah hidangan makan malam telah siap untuknya. Dalam hatinya, dia merasa terharu dan malu akan semua kebaikan yang ia dan Joko terima dari keluarga Aldi. Walaupun terjadi kesenjangan ekonomi di antara mereka, hubungan tetangga mereka cukup baik sehingga sudah seperti saudara sendiri. Padahal, rumah mereka pun tidak bersebelahan. Dan tentunya, Joko sekeluargalah yang paling merasakannya.
“Silahkan, pak!” ucap Aldi selanjutnya.
“Terima kasih, nak.” Bapak Joko langsung saja menerimanya. Tidak ada gunanya mengelabuhi perut yang sedang demo menuntut hak mereka, dia juga tidak enak menolak pemberian Aldi yang begitu memperhatikannya. Bahkan, terkadang perhatian Joko terhadapnya pun kalah, misalnya malam ini.
Suara cakap burung hantu menggeliat, menemani malam yang semakin pekat. Rembulan yang biasanya menyala terang, kini suram tertutup mendung. Sementara hanya ada satu dua bintang yang tetap teguh menampakkan cahayanya untuk semesta. Ditambah lagi suasana yang sepi dan senyap, malam ini seolah-olah ikut merasa prihatin akan apa yang sedang dialami bapak Joko.

***********
“Hmm... huaah,” Sang Mentari menggeliat menyapa alam. Namun, sedikit rasa kantuk masih menghinggapinya. Di samping itu, akibat hujan deras tadi malam juga berperan membuatnya terkesan malas menampakkan diri. Walaupun begitu, aktivitas masyarakat di Kamis pagi itu masih berjalan seperti biasa. Para petani masih setia memanggul cangkul demi memikirkan pangan negeri ini. Para pedagang masih loyal dengan rukonya. Para nelayan masih sibuk bergelut dengan hasil tangkapannya yang tidak memuaskan tadi malam. Pun, para generasi bangsa yang masih tetap teguh menuntut ilmu di sekolah masing-masing.
Suasana di MA Al-Bidayah begitu kontras dengan hawa pagi itu. Tawa, canda, hiruk-pikuk siswa yang sedang mengerjakan PR atau sekedar mempersiapkan pelajaran pertama, seakan menafikan hawa dingin yang menyebar. Tidak tampak satupun siswa yang mengenakan jaket atau menggigil kedinginan. Begitu juga kantin yang masih sepi dari pengunjung yang menghangatkan tubuh, kecuali dua pemuda yang sedang terlibat kontroversi itu.
“Kamu benar-benar keterlaluan, Jok. Kamu tega membiarkan bapakmu yang sedang sakit itu tinggal di rumah sendirian. Apa keperluanmu sehingga menanggalkan baktimu, Joko?” suara Aldi meluap-luap sambil menahan amarah.
Sementara itu, Joko hanya diam dan memainkan sendok di depannya. Dia tidak bergeming sedikitpun dengan ucapan Aldi. Melihat itu, Aldi semakin kesal.
“JOKOOOO!!!.” teriaknya. “Kamu dengar apa tidak, sih?”
“Aldi,” ucap Joko tenang. Begitu kontras dengan nada Aldi yang membuat nafasnya naik turun menahan emosi. Dia juga masih sempat menyeruput wedang jahe di hadapannya sebelum melanjutkan omongannya.
“Aldi,” ucapnya sekali lagi. “Kamu belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jadi, tenang dan diam saja.”
Mendengar hal itu, Aldi semakin naik pitam. Hampir saja ia meluapkan semua emosinya bila Joko tidak mengingatkan.
“Apa kamu tidak malu dilihat penjaga kantin dari tadi,” ucap Joko. “Dan apa kamu mau seluruh penghuni sekolahan ini menganggap kita bertengkar lalu beramai-ramain melerai kita?”
Aldi terdiam. Dia menoleh segala penjuru. Dan benar saja, sudah ada beberapa orang yang menonton gratis pertunjukannya tadi. Tampak pula penjaga kantin dan sebagian siswa yang pura-pura tidak melihat dan melakukan aktivitas lain.
“Bagaimana?” tanya Joko.
Aldi menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Lalu, apa yang membuatmu tega seperti itu?” tanyanya kemudian dengan nada yang sudah mulai turun.
Joko menyeruput wedangnya lagi, lalu berujar, “Aku bingung, Al. Kamu tahu kan kemarin aku dipanggil Kepala Sekolah?”
Aldi hanya mengangguk sambil menyeruput wedangnya yang masih penuh itu.
“Kata beliau,” Joko melanjutkan, “Aku dapat beasiswa untuk belajar di Harvard University. Beliau diam-diam mendaftarkanku begitu melihat cita-citaku yang kutulis dalam daftar riwayat hidup yang beliau suruh tulis sebulan yang lalu.”
“Lalu, kenapa pula kau bingung?” tanya Aldi kemudian.
“Masa’ kamu tidak mikir Al.” Sekarang nada Joko yang mulai meninggi. Sontak, itu membuat penjaga kantin memperhatikan mereka lagi.
Aldi diam sebentar, lalu mencoba merenung. Namun, sebelum menemukan jawaban, Joko sudah kedahuluan menjelaskannya.
“Aku bingung Aldi. Di satu sisi aku ingin merengkuh cita-citaku yang selama ini aku harapkan. Tapi di sisi lain, aku punya kewajiban menjaga bapak. Aku khawatir dengan kondisinya yang seperti itu, sementara beliau adalah satu-satunya orang tuaku,” jelas Joko dengan nada datar seperti semula.
Aldi hanya diam seribu bahasa mendengar itu. Dia juga merasa dilematis atas apa yang sedang dihadapi sahabat karibnya itu.
“Aku tahu,” lanjut Joko. “Bapakku pasti akan mengizinkanku pergi karena beliaulah yang pertama kali mengenalkanku padanya. Selain itu, beliau juga tak henti-hentinya menyupportku untuk pergi belajar di sana. Tapi, aku takut terjadi apa-apa pada bapak, Al.” Tak terasa, sebutir luh membasahi pipi Joko. Sementara Aldi hanya bisa tetap diam dan mencoba memikirkan solusinya.
‘Teet, teet, teet.’
“Sudah bel, Jok. Ayo kita masuk kelas dulu. Nanti kita pikirkan jalan keluar yang terbaik untukmu,” ajak Aldi begitu bel masuk terdengar menggema ke seluruh penjuru sekolah.
“Bu, bayarnya nanti saja, ya,” teriaknya kepada penjaga kantin, lalu menarik Joko untuk segera menuju ke lembah pembelajaran mereka.
Dunia memang aneh dan unik. Walaupun hanya mainan dan sendau gurau, di dalamnya penuh pilihan yang dilematis dan membingungkan. Bahkan, terkadang pula pilihan simalakama juga muncul. Tentu hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri dalam hidup. Tinggal yang menjalaninya, apakah dia enjoy dengan itu, ataukah dia akan meradang karenanya. Tapi kebanyakan orang tidak terlalu berpikir panjang untuk memilih. Tak jarang mereka hanya asal pilih sehingga membuat mereka semakin merana dan sulit.
Di tengah kegalauan seperti itu, otak tidak akan jernih untuk menerima apapun selain yang berkaitan dengan masalahnya. Begitu pula dengan Joko. Sepanjang pelajaran, tidak satupun ilmu baru yang meresap ke limbic system otaknya. Padahal, pelajaran hari itu merupakan pelajaran favoritnya. Namun apa daya, masalah lebih mendominasi konsentrasinya.
Aldi, yang tahu masalah Joko, juga ikut-ikutan memutar otak untuk menciptakan sebuah solusi. Semua sel syaraf otak ia kerahkan. Untuk itu, semua hal yang terjadi hari ini ia acuhkan. Bahkan, Tina, pacarnya dari kelas XI IPS 3, yang menyambanginya waktu istirahat.
“Aku lagi sibuk, Tin,” ucapnya ketika Tina mengajak makan di kantin. Padahal baru sekitar satu bulan ini dia jadian sama Tina.
Sementara Joko menghabiskan waktu istirahatnya dengan duduk diam di kelas. Dia mencorat-coret kertas, mencoba mengotak-atik masalahnya dalam bentuk gambar. Nasi pecel favoritnya yang diberikan Tori, teman sebangkunya yang juga sebagai juragan kacang, masih tergeletak rapi di mejanya. Tertarik untuk melihatnya pun tidak. Padahal, dari kemarin sore belum segelintir nasi pun yang diterima penghuni perutnya. Hanya sebutir roti dan segelas wedang jahe tadi pagi yang menjadi sumber tenaganya. Lagi-lagi, sebuah permasalahan bisa mengalahkan semuanya. Tapi tenanglah, karena sebuah pengorbanan tidak akan memunculkan hal yang sia-sia belaka.
Awan sudah mulai menguning lagi. Padi-padi yang sudah siap dipanen minggu depan, mengucapkan salam perpisahan dengan pak tani seraya berterima kasih telah mengusir pipit-pipit yang semena-mena. Para ruko, baik yang tadi sepi atau ramai pembeli, satu per satu tidur dengan damai. Sedangkan di pantai, para nelayan sibuk mempersiapkan jala dan perahunya.
Senja ini begitu cerah nan indah. Udara yang berhembus sepoi menenangkan dan menyejukkan hati. Ditambah lagi suara-suara camar yang bergerak kembali ke lembah peristirahatan, membuat suasana di senja ini semakin terasa hidup. Berbeda 180 derajat dengan pagi tadi yang begitu redup oleh kabut. Tampak di bawah cakrawala senja, dua remaja sedang berboncengan sepeda. Satunya lagi masih mengenakan seragam, sedangkan yang lain sudah berpakaian bebas.
“Kamu tidak dicari orang tuamu, Al, kalau menginap di rumahku?” tanya Joko sambil terus mengayuh sepeda keluaran terbaru itu.
“Tidak. Aku tadi sudah minta izin sama kedua orang tuaku untuk menginap di rumahmu. Lagian besok kan libur,” jawab Aldi sambil melihat-lihat isi tas Joko.
“Hey, jangan sembarangan dilihat isinya,” bentak Joko begitu menoleh ke belakang.
“Memangnya ada apanya? Aku jadi semakin penasaran, nih,” goda Aldi.
“Pokoknya jangan, ya jangan,” teriak Joko mengimbangi deru mesin truk yang melewati sepeda mereka.
Aldi semakin menggoda Joko begitu menemukan sebuah amplop berwarna merah muda. Dia pun penasaran untuk membukanuya. Joko yang menegtahuinya, tidak terima dan langsung berhenti mengayuh serta merebut tasnya.
“Sudah, sekarang kamu yang mengayuh,” perintah Joko.
Aldi hanya tersenyum dan menuruti apa kata Joko.
“Aku sedang ingin bercinta... kare..na...,” Aldi pun menyanyikan salah satu lagu favoritnya.
“Aah.. diam saja kamu,” kata Joko, wajahnya memerah karena malu.
“Tina milikku, Maya milikmu,” Aldi ganti lagu.
Joko hanya diam, membiarkan Aldi bernyanyi semaunya. Wajah merahnya sudah sedikit memudar. Dipandangnya amplop merah muda yang hampir saja isinya diketahui Aldi itu lekat-lekat, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Sesaat kemudian, dia mencoba memantapkan hati atas keputusan yang telah diambilnya tadi. Dia pun menghela napas panjang.
Semilir angin mengantar mereka berdua ke tujuan. Wajah mereka bervariasi ketika turun dari sepeda. Wajah Aldi sedikit dipengaruhi oleh rasa penasaran karena ucapan Joko tadi ketika pulang sekolah.
“Al, aku sudah membuat keputusan. Sekarang kamu pulang dulu, ya,” ucap Joko ketika bel pulang berbunyi.
“Lha, kamu?” tanya Aldi.
“Nanti kalau udah sorean, kamu jemput aku di lapangan sebelah masjid An-Nur. Aku ada urusan dulu.”
“Tapi apa kamu benar-benar sudah mendapatkan solusi dan akan pulang nanti sore?” tanya Aldi sangsi.
“Ya, aku janji. Nanti setelah di rumah aku akan bilang sama kamu dan bapak,” jawab Joko, kemudian berlalu.
Sementara itu, Joko menata hatinya untuk mengemukakan keputusannya nanti kepada bapak dan Aldi. Dipandangnya Aldi lekat, lalu tersenyum kecil.
“Ada apa?” tanya Aldi geli dipandangi Joko seperti itu. Joko hanya cuek, lalu mengetuk pintu rumah yang kemarin ditinggalkannya itu. “Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa’alaikum salaam. Masuk saja, nak!” jawab suara dari dalam. Terdengar suara batuk khas bapaknya setelah itu.
Tanpa ba-bi-bu, Joko langsung membuka pintu dan menuju kamar bapaknya. Disalami dan diciuminya tangan orang yang sudah 7 tahun merawatnya sendiri itu, tanpa pendamping.
“Ma’afkan Joko, pak!” ucap Joko pelan. Air matanya luruh membasahi tangan bapaknya.
“Tidak apa-apa, nak kamu tidak salah, kok. Nak Aldi sudah cerita semuanya ke bapak,” ujar bapaknya seraya mengelus kepala anak pertama dan terakhirnya itu.
‘Deg’.
‘Aldi sudah cerita ke bapak’, batinnya. Dia pun menoleh ke belakang. Tampak Aldi yang baru saja berdiri di belakangnya hanya tersenyum memberi isyarat, ‘Maaf, aku tidak izin dulu ke kamu!’
“Nak,” bapaknya bangkit dari tidur dan duduk bersandar di dinding. “Bapak sebagai orang tua, hanya bisa menyerahkan ini semua kepadamu. Terserah keputusanmu apa, bapak hanya bisa mendukungmu. Namun, bapak berharap kau tidak menjadikan orang tuamu ini sebagai penghalang cita-citamu.”
Joko menghirup napas, lalu berujar. “Pak, Aldi, Joko sudah membuat keputusan yang bulat dan Joko sudah memperhitungkannya dengan matang.” Joko terdiam sebentar, lalu melanjutkan, “Joko akan tetap merawat bapak di rumah.”
“Lantas, bagaimana dengan beasiswamu, Jok?” Aldi menyahut.
“Kata Pak Sobri, aku boleh mundur asal ada gantinya. Dan aku mencantumkan nama Aldi Rahayu Al-Suwaelemy sebagai ganti namaku,” jawab Joko sambil menatap temannya itu dan tersenyum kecil kepadanya.
“Tapi, kapan kamu melakukannya Joko? Dan kenapa pula kau harus melakukan ini?” tanya Aldi lagi. Dia begitu tidak menyangka bahwa keputusan Joko adalah seperti ini.
“Tadi, sewaktu aku pulang sekolah.” Joko tersenyum memberi isyarat, ‘Maaf, aku tidak izin dulu ke kamu !”
“Ta.. tapi, Jok...,” Aldi berusaha menolak.
“Tidak ada tapi-tapian. Kamu juga ingin ke sana, kan. Lagipula semuanya sudah diurus dan setelah lulus ujian, kamu tinggal berangkat ke sana.” Aldi hanya terdiam.
“Terima saja, nak Aldi!” Bapak Joko tersenyum melihat kebijakan yang diambil anaknya itu. “Lagian, kapan lagi kami bisa membalas budi baikmu dan kelaurgamu kepada kami,” lanjutnya.
“Te.. ter.. terima kasih, Joko” ucap Aldi, lalu menghampiri Joko dan memeluknya erat.
“Itulah gunanya sahabat, kawan,” ucap Joko menyambut pelukan Aldi.
Jadi, senja kala itu memang lebih cerah dari pada pagi.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Slot Machine - Sega Genesis (Mega Drive) - JTG Hub
Welcome to Slot Machine, 양주 출장안마 the newest 성남 출장마사지 add-on for the Sega Genesis. It's been 정읍 출장샵 made available on the Sega Megadrive/Genesis, 의정부 출장샵 so you can play it 진주 출장안마 in full

Posting Komentar